bagus juga nih note,,,semoga bermanfaat yah... ^_^
*****
WAHAI CALON SUAMIKU
ketahuilah…
sesungguhnya tidaklah aku ingin menikah melainkan karena aku tidak ingin mati dalam keadaan agamaku ini hanya setengah. [1]
dan tidaklah aku ingin menjadi orang yang menikah melainkan karena aku meyakini janji Alloh bagi orang yang menikah itu benar adanya.
tahukah kau bahwa setiap hubungan suami isteri yang halal itu adalah sedekah yang dapat mendatangkan pahala?! [2]
tahukah kau bahwa hanya dengan merengkuh tangan isteri maka berguguranlah dari jari jemari dosa-dosa?! [3]
dan tahukah kau bahwa bila seorang isteri meninggal dunia sementara suaminya dalam keadaan ridha padanya maka ia akan masuk surga?! [4]
dan bila semasa hidup dia taat kepada Alloh dan taat pula kepada suaminya maka ia boleh memasukinya dari pintu mana pun yang ia suka?! [5]
duhai, calon suamiku…
tidak lah aku ingin menjadi seorang isteri melainkan karena janji Alloh yang satu ini.
karena sesungguhnya aku takut mengetahui bahwa penghuni neraka itu kebanyakan wanita. [6]
dan hanya kepada Alloh aku berharap perlindunganNya dan petunjukNya di manapun aku berada.
wahai calon suamiku…
telah ditakdirkan Alloh bahwa akhirnya engkau memilihku.
semoga inilah perlindungan dan petunjuk yang Dia berikan agar aku bisa mendapatkan kebenaran janji Alloh itu…
namun, wahai calon suamiku,
aku ingin kau menyadari bahwa aku bukanlah makhluk yang sempurna seperti juga dirimu.
maka mengertilah bahwa setelah kita menikah nanti akan banyak hal baru yang akan sama-sama kita ketahui
insya Alloh, akan kujaga apa yang harus kujaga darimu,
dan kuharap kau pun menjaga apa yang harus kau jaga dariku. [7]
bila kau menemukan ketidaksukaanmu padaku karena kekuranganku
maka bersabarlah, calon suamiku…
karena kadang-kadang pada sesuatu yang tidak kau sukai, Alloh menjadikan kebaikan padanya. [8]
temukanlah kelebihan yang kau sukai dari diriku,
bukankah kau memiliki alasan mengapa kau ingin menikahiku?! [9]
tetapi, wahai calon suamiku…
bila ketidaksukaan yang kau temukan itu adalah karena kesalahanku,
maka nasehatilah aku, pisahkanlah tempat tidurku dan pukullah aku bila akhirnya aku meninggalkan kewajibanku. [10]
namun janganlah kau bermaksud menyakitiku hingga membahayakan hidupku karena aku adalah bagian dari dirimu. [11]
janganlah kau luruskan kebengkokanku, karena aku bisa patah [12]
tetapi berhati-hatilah terhadapku, karena aku bagaikan gelas kaca [13].
ingatlah bahwa manusia yang baik adalah yang baik pada keluarganya,
dan lelaki yang baik adalah yang baik pada isterinya. [14]
dan cukuplah engkau menjadikan aku seseorang yang patuh kepadamu dengan menjadi seseorang yang pantas aku patuhi.
sehingga aku mempunyai alasan mengapa aku harus berhias setiap hari,
dan mengapa aku harus menjaga diriku, kehormatan dan juga hartamu saat kau tidak ada di sisi… [15]
jadikanlah aku sebaik-baik perhiasan duniamu [16], hartamu yang paling berharga [17]…
-Mutiara-
*Footnote
1. Hadits Riwayat Al-Hakim, artinya: Barangsiapa menikah, maka dia telah menguasai separuh agamanya, karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.
2. Hadits Riwayat Muslim, artinya: dan kalian jima’ dengan isteri pun sedekah. Bukankah bila syahwat disalurkan pada tempat yang haram maka akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula bila disalurkan pada tempat yang halal, maka akan mendapatkan pahala.
3. Riwayat Maisarah, artinya: Sungguh, ketika suami isteri saling memperhatikan, maka Allah memperhatikan keduanya dengan penuh rahmat. Manakala suami merengkuh telapak tangan isteri (meremas-remasnya), berguguranlah dosa-dosa keduanya dari sela-sela jari-jemari.
4. Hadits Riwayat Ibnu Majah, artinya: Siapapun wanita yang meninggal dunia sedang suaminya meridhainya maka dia akan masuk surga.
5. Hadits Riwayat Ath Thabrani, artinya: jika seorang wanita mengerjakan shalat 5 waktu, berpuasa satu bulan penuh (Ramadhan), dan mentaati suaminya, maka hendaklah ia memasuki dari pintu surga manapun yang dia kehendaki.
6. Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Telah diperlihatkan api naar kepadaku, kulihat mayoritas penghuninya adalah kaum wanita.
7. (a) Hadits Ibnu Abi Syaibah, artinya: Di antara manusia yang paling rendah derajatnya di sisi Allah padahari kiamat adalah seorang suami yang jima’ dengan isterinya lalu menyebarkan rahasianya. (b) Hadits At Tirmidzi, artinya: dan hak kalian (suami) atas mereka (isteri) adalah mereka tidak mengajak orang yang kalian benci untuk mendatangi tempat tidur kalian serta tidak mengizinkan orang yang kalian benci memasuki rumah kalian
8. An Nisa’: 19, artinya: Dan bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.
9. Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Seorang wanita dinikahi karena empat perkara, karena hartanya, keturunanannya,, kecantikannya, dan agamanya. Maka pilihlah wanita yang taat beragama niscaya kamu akan beruntung.
10. An Nisa’: 34, artinya: Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (meninggalkan kewajiban sebagi isteri), maka nasehatilah, pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menta’atimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.
11. (a) Al-Hujurat: 10, artinya : Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (b) Hadits Riwayat: artinya : Perumpamaan kaum muslimin dalam cinta kasih, dan lemah lembut serta saling menyayangi antara mereka seperti satu jasad (tubuh) apabila satu anggotanya merasa sakit, maka seluruh jasadnya ikut merasa sakit.
12. Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Bersikap baiklah terhadap wanita. Karena mereka itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah yang paling atas. Kalau kamu berusaha meluruskannya, maka ia akan patah.
13. Hadits Riwayat Bukhari, artinya: Wahai Anjasyah, perlahanlah, sebab bawaanmu adalah gelas-gelas kaca.
14. (a) Hadits Riwayat At Tirmidzi dan Ibnu Majah, artinya: sebaik2 kalian adalah yang baik kepada keluarganya. (b) Hadits Riwayat Imam Hakim: artinya: sebaik-baik kalian adalah yang baik kepada isterinya
15. Hadits Riwayat Ahmad, artinya: Apakah kalian mau saya beritahu tentang simpanan seseorang yang paling berharga? Yaitu wanita sholihah yang suaminya menjadi bahagia bila memandangnya, bila diperintah segera dipenuhi, dan bila suaminya tidak ada dia menjaga kehormatannya.
16. Hadits Riwayat Muslim, artinya: Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholihah.
17. Lihat No. 15
Sabtu, 27 November 2010
Doaku, doamu, dan doa qt semua ( bg yg msh lajang )
Ya Allah, jgn biarkan aku hidup sendiri tanpa teman sejati,
Ya Allah, brikanlah pendamping terbaik utkku yg dpt membahagiakanku baik d dunia maupun d akhirat,
Ya Allah, berikanlah pendamping utkku yg dpt menentramkan hatiku, pendamping yg dpt membawaku lebih dkt dgnMU,
Ya Allah, berikan pendamping utkku yg dpt membawaku ke syurgaMU,
Ya Allah, anugrahkanlah pendamping dan anak keturunanku mjd permata hatiku, serta jadikanlah kami mjd imam bg org2 yg bertakwa,
Ya Allah, kabulkanlah doa dan permohonanku,
Amiin ya rabbal 'alamin
Ya Allah, brikanlah pendamping terbaik utkku yg dpt membahagiakanku baik d dunia maupun d akhirat,
Ya Allah, berikanlah pendamping utkku yg dpt menentramkan hatiku, pendamping yg dpt membawaku lebih dkt dgnMU,
Ya Allah, berikan pendamping utkku yg dpt membawaku ke syurgaMU,
Ya Allah, anugrahkanlah pendamping dan anak keturunanku mjd permata hatiku, serta jadikanlah kami mjd imam bg org2 yg bertakwa,
Ya Allah, kabulkanlah doa dan permohonanku,
Amiin ya rabbal 'alamin
Istri yang akan menghuni Surga
DARI ‘Abdullah bin ‘Abbas ra: Rasulullah saw bersabda: “Maukah kuberitahu kepada kalian tentang istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga? Yaitu perempuan yang mencintai suami, mempunyai banyak anak, dan selalu meminta maaf kepada suaminya.
Jika ia menyakiti atau disakiti, ia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya, lalu berkata,”Demi Allah, aku tidak akan tidur sebelum engkau ridho kepadaku.” (HR Al-Nasa’i). Dari hadist di atas tersebut dapat kita ambil pelajaran tentang mana istri yang akan masuk surga. Paling tidak dari Rasulullah saw mengisyarakatkan ada empat istri yang akan masuk surga jika mereka, pertama: mencintai suaminya. Istri selayaknyalah mencintai suaminya baik dalam keadaan suka maupun duka. Banyak para istri yang mencintai suaminya dikala suka, tetapi jika dalam keadaan duka, istri marah-marah bahkan tidak meladeni suaminya.
Istri yang seperti ini hanya mementingkan perasaan dirinya semata. Ia menuntut agar suaminya memberikan materi yang berlebih kepadanya, tetapi ketika suami tidak sanggup untuk memberikan materi yang berlebih istri menganggap suaminya tidak sayang lagi kepadanya. Akibatnya, banyak suami yang terjebak untuk melakukan tindakan korupsi karena ingin menyenangkan hati istrinya.
Di sinilah dipertaruhkan hakikat istri yang sebenarnya, makanya Rasulullah bersabda, istri yang akan masuk surga adalah istri yang mencintai suaminya, artinya baik itu suaminya dalam keadaan suka maupun duka. Istri tetap mendampingi suaminya dalam menjalani hidup.
Kedua, istri yang punya banyak anak. Bersyukur seorang istri yang diberi anugerah membesarkan anak-anaknya. Tidak banyak istri yang diberi anugerah dengan banyak anak. Ketika ia ikhlas membesarkan anak-anaknya dengan penuh rasa kasih sayang dan selalu membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah, maka surga telah menunggu istri yang seperti ini. Saat ini, banyak istri yang memberikan tanggungjawabnya kepada orang lain sebagai ibu yaitu menyerahkan anaknya kepada baby sister.
Jadi apakah salah menyerahkan anak kepada baby sister. Salah! Jika sepenuhnya baby sisterlah yang bertanggungjawab, mulai dari bangun si anak sampai si anak tidur lagi seluruhnya diserahkan kepada baby sister. Seorang baby sister tugasnya hanya membantu seorang istri. Ia bukan ibu dari anak-anak kita. Yang menjadi ibu adalah kita. Jadi jalankankan peran seorang istri juga sebagai seorang ibu.
Ketiga: Seorang istri harus selalu meminta maaf kepada suaminya, apakah pada saat ia menyakiti hati suaminya atau ketika ia disakiti oleh suaminya. Bagi orang-orang yang berpaham feminis, jelas ini ini tidak benar. Seorang istri yang disakiti oleh suami kenapa harus juga minta maaf. Islam mengajarkan orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih baik dari orang yang memberi maaf.
Seorang istri akan mendapat imbalan surga jika ia meminta maaf lebih dahulu ketika ia menyakiti hati suaminya atau ia disakiti. Boleh jadi dengan meminta maaf terlebih dahulu, suami yang telah menyakiti hatinya akan tersentuh hatinya, bahwa sesungguhnya ialah yang harus meminta maaf bukan istrinya. Namun jika tidak ada seorangpun yang meminta maaf maka boleh jadi rumah tangga akan berantakan.
Maka wajarlah seorang istri yang dinanti kehadirannya di surga adalah istri-istri yang mampu menempatkan dirinya sebagai seorang istri, ibu dan orang yang berusaha menjaga kerukunan rumah tangganya.
Mudah-mudahan hadist di atas tersebut menyadarkan kepada kita bahwa tugas sebagai istri memang sangat berat. Dan ketika tantangan itu dapat dihadapi dengan penuh keikhlasan maka surgalah tempat ia kembali.
================================Oleh : H. Ali Murthado
http://www.analisadaily.com/
Jika ia menyakiti atau disakiti, ia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya, lalu berkata,”Demi Allah, aku tidak akan tidur sebelum engkau ridho kepadaku.” (HR Al-Nasa’i). Dari hadist di atas tersebut dapat kita ambil pelajaran tentang mana istri yang akan masuk surga. Paling tidak dari Rasulullah saw mengisyarakatkan ada empat istri yang akan masuk surga jika mereka, pertama: mencintai suaminya. Istri selayaknyalah mencintai suaminya baik dalam keadaan suka maupun duka. Banyak para istri yang mencintai suaminya dikala suka, tetapi jika dalam keadaan duka, istri marah-marah bahkan tidak meladeni suaminya.
Istri yang seperti ini hanya mementingkan perasaan dirinya semata. Ia menuntut agar suaminya memberikan materi yang berlebih kepadanya, tetapi ketika suami tidak sanggup untuk memberikan materi yang berlebih istri menganggap suaminya tidak sayang lagi kepadanya. Akibatnya, banyak suami yang terjebak untuk melakukan tindakan korupsi karena ingin menyenangkan hati istrinya.
Di sinilah dipertaruhkan hakikat istri yang sebenarnya, makanya Rasulullah bersabda, istri yang akan masuk surga adalah istri yang mencintai suaminya, artinya baik itu suaminya dalam keadaan suka maupun duka. Istri tetap mendampingi suaminya dalam menjalani hidup.
Kedua, istri yang punya banyak anak. Bersyukur seorang istri yang diberi anugerah membesarkan anak-anaknya. Tidak banyak istri yang diberi anugerah dengan banyak anak. Ketika ia ikhlas membesarkan anak-anaknya dengan penuh rasa kasih sayang dan selalu membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah, maka surga telah menunggu istri yang seperti ini. Saat ini, banyak istri yang memberikan tanggungjawabnya kepada orang lain sebagai ibu yaitu menyerahkan anaknya kepada baby sister.
Jadi apakah salah menyerahkan anak kepada baby sister. Salah! Jika sepenuhnya baby sisterlah yang bertanggungjawab, mulai dari bangun si anak sampai si anak tidur lagi seluruhnya diserahkan kepada baby sister. Seorang baby sister tugasnya hanya membantu seorang istri. Ia bukan ibu dari anak-anak kita. Yang menjadi ibu adalah kita. Jadi jalankankan peran seorang istri juga sebagai seorang ibu.
Ketiga: Seorang istri harus selalu meminta maaf kepada suaminya, apakah pada saat ia menyakiti hati suaminya atau ketika ia disakiti oleh suaminya. Bagi orang-orang yang berpaham feminis, jelas ini ini tidak benar. Seorang istri yang disakiti oleh suami kenapa harus juga minta maaf. Islam mengajarkan orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih baik dari orang yang memberi maaf.
Seorang istri akan mendapat imbalan surga jika ia meminta maaf lebih dahulu ketika ia menyakiti hati suaminya atau ia disakiti. Boleh jadi dengan meminta maaf terlebih dahulu, suami yang telah menyakiti hatinya akan tersentuh hatinya, bahwa sesungguhnya ialah yang harus meminta maaf bukan istrinya. Namun jika tidak ada seorangpun yang meminta maaf maka boleh jadi rumah tangga akan berantakan.
Maka wajarlah seorang istri yang dinanti kehadirannya di surga adalah istri-istri yang mampu menempatkan dirinya sebagai seorang istri, ibu dan orang yang berusaha menjaga kerukunan rumah tangganya.
Mudah-mudahan hadist di atas tersebut menyadarkan kepada kita bahwa tugas sebagai istri memang sangat berat. Dan ketika tantangan itu dapat dihadapi dengan penuh keikhlasan maka surgalah tempat ia kembali.
================================Oleh : H. Ali Murthado
http://www.analisadaily.com/
10 TIPS MENJAGA KEHARMONISAN RUMAH TANGGA
Bismillahirrahmanirrahim...
tulisan di bawah ini dicopas dari alamat sebelah,,, semoga membawa manfaat untuk kita semua (cocok buat calon penganten ^_^)
1. SALING MEMBERI HADIAH
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai.” (HR. Bukhari dlm Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al Albani)
Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian seorang suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi istri, hadiah dari suami mempunyai nilai yang sangat mengesankan. Hadiah tidak harus mahal, tetapi sebagai simbol perhatian suami kepada istri.
Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar oleh-oleh kesukaan istrinya, tentu akan membuat sang istri senang dan merasa mendapat perhatian. Dan seorang suami, semestinya lebih mengerti apa yang lebih disenangi oleh istrinya. Oleh karena itu, para suami hendaklah menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan dengan memberi hadiah meski sederhana.
2. MENGKHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA
Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusan masing-masing, dan tidak ada waktu untuk duduk bersama. Ada pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh bin Baaz. Ada seorang pemuda tidak memperlakukan istri dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan lainnya, sehingga meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam waktu lama. Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang seharusnya dikhususkan untuk isteri?
Syaikh bin Bazz menjawab pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak ragu lagi, bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik berdasarkan firman Allah:
ayat17
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’:19)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang tebaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Sebaliknya, seorang istri juga disyari’atkan untuk membantu suaminya, misalnya menyelesaikan tugas-tugas studi ataupun tugas kantor. Hendaklah dia bersabar apabila suaminya memiliki kekurangan karena kesibukannya, sehingga kurang memberikan waktu yang cukup kepada isterinya. Berdasarkan firman Allah, hendaklah antara suami dan istri saling bekerjasama :
ayat27
“Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al Maidah :2)
Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat36
“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaihi, diterjemahkan dari buku Fatawa Islamiyyah)
Nasihat Syaikh bin Baaz tersebut ditujukan kepada kedua belah pihak. Kepada suami hendaklah benar-benar tidak sampai melalaikan, dan kepada istri pun untuk bisa bersabar dan memahami apabila suaminya sibuk bukan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk para isteri, bisa juga mengoreksi diri mereka. Mungkin diantara sebab suami tidak kerasan di rumah karena memiliki isteri yang sering marah, selalu bermuka masam dan ketus apabila berbicara.
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA
Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
ayat44.
“Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah bersabar. Ada pertanyaan dari seorangb isteri yang disampaiakan kepada Syaikh bin Baaz, sebagai berikut:
Suami saya-semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia tidak memiliki perhatian kepada saya sedikitpun. Jka di rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab masalahnya. Tetapi Allah lah yang mengetahui bahwa saya-alhamdulillah-telah melaksanakan hak-haknya. Yakni menjalankan kewajiban saya sebagai isteri. Saya berusaha semaksimal mungkin dapat memberikan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakan-tindakannya terhadap saya.
Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia selalu marah, dan dia mengatakan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal perlu diketahui, jika kepada teman-temannya, suami saya tersebut termasuk murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.
Wahai Syaikh, apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri anak-anak saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal bersama suami dalam keadaan seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak merasakan problem saya ini?
Di jawab oleh Syaikh bin Baaz: “Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak yang mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Allah:
ayat53.
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa:19)
Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:
ayat62.
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isteri.” (QS. Al Baqarah :22 8)
Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah, tidak berarti laki-laki pasti derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat72.
“Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat82.
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan wajah ceria pada saat bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin, berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat. Oleh karena itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu, yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan hal itu. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akibat yang baik, insya Allah diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang menunjukkan, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya balasan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada orang-orang yang sabar.
Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan hatinya, dan yang dapat menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan hak-hakmu. Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak pokok) selama sang suami melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan pokok, sehingga ia menjadi lapang dada dan hatinya tenang. Engkau akan merasakan balasan yang baik, insya Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada dirimu untuk mendapatkan kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah membimbingnya untuk dapat bermuka ceria dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik yang diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada jalan yang lurus. (Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah).
Ini menunjukkan, bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh dan menyampaikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap bisa menyelesaikan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian wanita yang sering, atau suka menceritakan rahasia rumah tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menyelesaikan masalahnya.
Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh Utsaimin mengatakan, bahwa apa yang disampaikan oleh sebagian wanita yang menceritakan keadaan rumah tangganya kepada kerabatnya, bisa jadi (kepada) orang tua isteri atau kakak perempuannya, atau kerabat yang lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) adalah diharamkan. Tidak halal bagi seorang wanita membuka rahasia rumah tangganya dan keadaan suaminya kepada seorangpun. Karena seorang wanita yang shalihah adalah yang bisa menjaga dan memelihara kedudukanmartabat suaminya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah memberitakan, seburuk-buruk manusia kedudukannya disisi Allah pada hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang suka menceritakan keburukan isterinya atau seorang wanita yang menceritakan keburukan suaminya.
Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita tidak boleh menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pun ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya adalah orang yang kikir, tidak memberi nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”
Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:
“Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” (Muttafaqun ‘alaih)
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT KPD PASANGANNYA
Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika hendak pergi keluar rumah ataupun ketika pulang. Penghormatan itu hendaklah dilakukan dengan mesra. Dalam beberapa hadits diriwayatkan, ketika hendak pergi shalat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri. Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.
Perbuatan sebagian orang ketika seorang isteri menjemput suaminya yang datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat. Memberikan penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya. Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya dihadapan anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami hendak bepergian, isteri menyiapkan pakaian yang telah disetrika dan dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.
Suami hendaknya menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan isteri secara seksama. Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika isterinya berbicara, ia justru sibuk dengan handphonenya mengirim sms atau sambl membaca Koran. Dia tidak serius mendengarkan ucapan isterinya. Dan jika menanggapinya, hanya dengan kata-kata singkat. Jika isteri mengeluh, suami mengatakan “hal seperti ini saja dipikirkan!”
Meskipun sepele atau ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya dengan serius, karena bagi isteri mungkin merupakan masalah yang besar dan berat.
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA
Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk di puji- dalam batas- yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah menjelaskan, bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan syarat-syarat: untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri.
Abu Bakar As Siddiq radhiallahu amhu pernah di puji, dan dia berdoa kepada Allah: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan. Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui.”
Perkataan ini juga di ucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau di puji-puji oleh seseorang dihadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya ini hanyalah penuntut ilmu saja”.
Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya dihadapan orang lain, seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya, khususnya dihadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN
Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk melakukan sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika melakukan tugas di rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan atau menjatuhkan kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini tidak benar.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan tugas-tugas di rumah, seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya dan melakukan tugas-tugas di rumah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan terdapat dalam Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi dalam keadaan darurat, seperti isteri sedang sakit setelah melahirkan. Terkadang isteri dalam keadaan repot, maka suami bisa meringankan beban isteri dengan memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal ini disamping menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih erat lagi antara ayah dan anak-anaknya.
7. UCAPAN YANG BAIK
Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan. Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias, tidak mempercantik diri dengan celak dimata, harus dengan ucapa yang baik. (Nasihat untuk akhwat yg berkeluarga atau ibu-ibu. Hendaknya wanita mempercantik diri dan berhias untuk suaminya. Yang terjadi, umumnya berdandan dan mempercantik diri kalau mau keluar rumah, atau kalau ada walimah, misalnya. Sedangkan di rumah, ia enggan mempercantik diri dan tampil seadanya. Padahal berdandan dan mempercantik diri untuk keluar rumah hukumnya haram.)
Misalnya dengan perkataan “Mengapa engkau tidak memakai celak?” Isteri menjawab dengan kalimat yang menyenangkan: “Kalau aku memakai celak, akan mengganggu mataku untuk melihat wajahmu”.
Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan perasaan cinta isteri kepada suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan kalimat yang menyenangkan. Berbeda dengan kasus lain. Saat suami isteri berjalan-jalan di bawah bulan pernama, suami bertanya:”Tahukah engkau bulan purnama di atas?” Mendengar pertanyaan ini, sang isteri menjawab:”Apakah engkau lihat aku buta?”
8. PERLU BEREKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK
Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah membuat suasana menjadi keruh. Sekali-kali diperlukan suasana lain dengan cara pergi berdua tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting, karena bisa memperbaharui cinta suami isteri. Kita mempunyai anak, lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem. Kita cari solusinya, jangan menyerah begitu saja.
Bukan berarti setelah mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua. Tidak! kita bisa meminta tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga untuk menjaga anak-anak, lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau belanja ke toko dan lain sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya, kita pergi berekreasi membawa isteri dan anak-anak.
9. HENDAKLAH MEMILIKI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
ayat10.
“Perumpamaan kaum mukminan antara satu dengan yang lainnya itu seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak dapat tidur dan orang yang terkena penyakit demam.” (HR. Muslim)
Ini berlaku secara umum kepada semua kaum muslimin. Rasa empati harus ada. Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk kepada isteri atau suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring ditempat tidur, isteri tertawa-tawa disampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai karena kesibukan, suami kemudian kurang merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN
Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem yang timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing menutup diri, tidak terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya. Yang akhirnya kian menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar, sampai akhirnya meledak.
tulisan di bawah ini dicopas dari alamat sebelah,,, semoga membawa manfaat untuk kita semua (cocok buat calon penganten ^_^)
1. SALING MEMBERI HADIAH
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah bersabda:
“Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling cinta mencintai.” (HR. Bukhari dlm Adabul Mufrad, dihasankan oleh Syaikh al Albani)
Memberi hadiah merupakan salah satu bentuk perhatian seorang suami kepada istrinya, atau istri kepada suaminya. Terlebih bagi istri, hadiah dari suami mempunyai nilai yang sangat mengesankan. Hadiah tidak harus mahal, tetapi sebagai simbol perhatian suami kepada istri.
Seorang suami yang ketika pulang membawa sekedar oleh-oleh kesukaan istrinya, tentu akan membuat sang istri senang dan merasa mendapat perhatian. Dan seorang suami, semestinya lebih mengerti apa yang lebih disenangi oleh istrinya. Oleh karena itu, para suami hendaklah menunjukkan perhatian kepada istri, diungkapkan dengan memberi hadiah meski sederhana.
2. MENGKHUSUSKAN WAKTU UNTUK DUDUK BERSAMA
Jangan sampai antara suami istri sibuk dengan urusan masing-masing, dan tidak ada waktu untuk duduk bersama. Ada pertanyaan yang diajukan kepada Syaikh bin Baaz. Ada seorang pemuda tidak memperlakukan istri dengan baik. Yang menjadi penyebabnya, karena ia sibuk menghabiskan waktunya untuk berbagai pekerjaan yang berhubungan dengan studi dan lainnya, sehingga meninggalkan istri dan anak-anaknya dalam waktu lama. Masalah ini ditanyakan kepada Syaikh, apakah diperbolehkan sibuk menuntut ilmu dan sibuk beramal dengan resiko mengambil waktu yang seharusnya dikhususkan untuk isteri?
Syaikh bin Bazz menjawab pertanyaan ini. Beliau menyatakan, tidak ragu lagi, bahwa wajib atas suami untuk memperlakukan istrinya dengan baik berdasarkan firman Allah:
ayat17
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa’:19)
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik di antara kalian terhadap keluarganya. Dan saya adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap keluargaku.”
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam juga bersabda:
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang tebaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Sebaliknya, seorang istri juga disyari’atkan untuk membantu suaminya, misalnya menyelesaikan tugas-tugas studi ataupun tugas kantor. Hendaklah dia bersabar apabila suaminya memiliki kekurangan karena kesibukannya, sehingga kurang memberikan waktu yang cukup kepada isterinya. Berdasarkan firman Allah, hendaklah antara suami dan istri saling bekerjasama :
ayat27
“Tolong menolonglah kalian di atas kebaikan dan takwa.” (QS. Al Maidah :2)
Juga berdasarkan keumuman sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat36
“Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu menolong saudaranya.” (Muttafaqun ‘alaihi, diterjemahkan dari buku Fatawa Islamiyyah)
Nasihat Syaikh bin Baaz tersebut ditujukan kepada kedua belah pihak. Kepada suami hendaklah benar-benar tidak sampai melalaikan, dan kepada istri pun untuk bisa bersabar dan memahami apabila suaminya sibuk bukan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Untuk para isteri, bisa juga mengoreksi diri mereka. Mungkin diantara sebab suami tidak kerasan di rumah karena memiliki isteri yang sering marah, selalu bermuka masam dan ketus apabila berbicara.
3. MENAMPAKKAN WAJAH YANG CERIA
Di antara cara untuk mempererat cinta kasih, hendaklah menampakkan wajah yang ceria. Ungkapan dengan bahasa wajah, mempunyai pengaruh yang besar dalam kegembiraan dan kesedihan seseorang. Seorang isteri akan senang jika suaminya berwajah ceria, tidak cemberut. Secara umum Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
ayat44.
“Sedikit pun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Begitu pula sebaliknya, ketika suami datang, seorang isteri jangan sampai menunjukkan wajah cemberut atau marah. Meskipun demikian, hendaknya seorang suami juga bisa memahami kondisi isteri secara kejiwaan. Misalnya, isteri yang sedang haidh atau nifas, terkadang melakukan tindakan yang menjengkelkan. Maka seorang suami hendaklah bersabar. Ada pertanyaan dari seorangb isteri yang disampaiakan kepada Syaikh bin Baaz, sebagai berikut:
Suami saya-semoga Allah memaafkan dia-, meskipun dia berpegang teguh dengan agama dan memiliki akhlak yang tinggi serta takut kepada Allah, tetapi dia tidak memiliki perhatian kepada saya sedikitpun. Jka di rumah, ia selalu berwajah cemberut, sempit dadanya dan terkadang dia mengatakan bahwa sayalah penyebab masalahnya. Tetapi Allah lah yang mengetahui bahwa saya-alhamdulillah-telah melaksanakan hak-haknya. Yakni menjalankan kewajiban saya sebagai isteri. Saya berusaha semaksimal mungkin dapat memberikan ketenangan kepada suami dan menjauhkan segala hal yang membuatnya tidak suka. Saya selalu sabar atas tindakan-tindakannya terhadap saya.
Setiap saya bertanya sesuatu kepadanya, dia selalu marah, dan dia mengatakan bahwa ucapan saya tidak bermanfaat dan kampungan. Padahal perlu diketahui, jika kepada teman-temannya, suami saya tersebut termasuk murah senyum. Sedangkan terhadap saya, ia tidak pernah tersenyum; yang ada hanyalah celaan dan perlakuan buruk. Hal ini menyakitkan dan saya merasa sering tersiksa dengan perbuatannya. Saya ragu-ragu dan beberapa kali berpikir untuk meninggalkan rumah.
Wahai Syaikh, apabila saya meninggalkan rumah dan mendidik sendiri anak-anak saya dan berusaha mencari pekerjaan untuk membiayai anak-anak saya sendiri, apakah saya berdosa? Ataukah saya harus tetap tinggal bersama suami dalam keadaan seperti ini, (yaitu) jarang berbicara dengan suami, (ia) tidak bekerja sama dan tidak merasakan problem saya ini?
Di jawab oleh Syaikh bin Baaz: “Tidak diragukan lagi, bahwa kewajiban atas suami isteri ialah bergaul dengan baik dan saling menampakkan wajah penuh dengan kecintaan. Dan hendaklah berakhlak dengan akhlak yang mulia, (yakni) dengan menampakkan wajah ceria, berdasarkan firman Allah:
ayat53.
“Pergaulilah mereka dengan baik.” (QS. An Nisa:19)
Juga dalam surat Al Baqarah ayat 228:
ayat62.
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi, para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isteri.” (QS. Al Baqarah :22 8)
Arti kelebihan disini, secara umum laki-laki lebih unggul daripada wanita. Tetapi nilai-nilai yang ada pada setiap individu di sisi Allah, tidak berarti laki-laki pasti derajatnya lebih tinggi. Sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
“Kebaikan itu adalah akhlak yang baik.” (HR. Muslim)
Dan berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat72.
“Sedikitpun janganlah engkau menganggap remeh perbuatan baik, meskipun ketika berjumpa dengan saudaramu engkau menampakkan wajah ceria.” (HR. Muslim)
Juga berdasarkan sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:
ayat82.
“Orang yang paling sempurna imannya adalah yang terbaik akhlaknya di antara mereka. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap isteri-isteri kalian.” (HR. Tirmidzi)
Ini semua menunjukkan, bahwa motivasi berakhlak yang baik dan menampakkan wajah ceria pada saat bertemu serta bergaul dengan baik kepada kaum Muslimin, berlaku secara umum; terlebih lagi kepada suami atau isteri dan kerabat. Oleh karena itu, engkau telah berbuat baik dalam hal kesabaran dan ketabahan atas penderitaanmu, yaitu menghadapi kekasaran dan keburukan suamimu. Saya berwasiat kepada dirimu untuk terus meningkatkan kesabaran dan tidak meninggalkan rumah di karenakan hal itu. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan yang banyak. Dan akibat yang baik, insya Allah diberikan kepada orang-orang yang sabar. Banyak ayat yang menunjukkan, barangsiapa yang bertakwa dan bersabar, maka sesungguhnya balasan yang baik itu bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Allah akan memberi ganjaran yang besar tanpa hisab kepada orang-orang yang sabar.
Tidak ada halangan dan rintangan untuk bercanda dan bergurau, serta mengajak bicara suami dengan ucapan-ucapan yang dapat melunakkan hatinya, dan yang dapat menyebabkan lapang dadanya dan menumbuhkan kesadaran akan hak-hakmu. Tinggalkanlah tuntutan-tuntutan kebutuhan dunia (yang tidak pokok) selama sang suami melaksanakan kewajiban dengan memberikan nafkah dari kebutuhan-kebutuhan pokok, sehingga ia menjadi lapang dada dan hatinya tenang. Engkau akan merasakan balasan yang baik, insya Allah. Semoga Allah memberikan taufik kepada dirimu untuk mendapatkan kebaikan dan memperbaiki keadaan suamimu. Semoga Allah membimbingnya kepada kebaikan dan memperbaiki akhlaknya. Semoga Allah membimbingnya untuk dapat bermuka ceria dan melaksanakan kewajiban-kewajibannya kepada isterinya dengan baik. Sesungguhnya, Allah adalah sebaik-baik yang diminta, dan Dia adalah pemberi hidayah kepada jalan yang lurus. (Dinukil dari buku Fatawa Islamiyyah).
Ini menunjukkan, bahwa seorang wanita diperbolehkan untuk mengeluh dan menyampaikan problemnya kepada orang yang alim, atau orang yang dianggap bisa menyelesaikan masalahnya. Hal ini tidak sama dengan sebagian wanita yang sering, atau suka menceritakan rahasia rumah tangganya, termasuk kelemahan dan keburukan suaminya kepada orang lain, tanpa bermaksud menyelesaikan masalahnya.
Sehubungan dengan permasalahan ini, Syaikh Utsaimin mengatakan, bahwa apa yang disampaikan oleh sebagian wanita yang menceritakan keadaan rumah tangganya kepada kerabatnya, bisa jadi (kepada) orang tua isteri atau kakak perempuannya, atau kerabat yang lainnya, bahkan kepada teman-temannya, (hukumnya) adalah diharamkan. Tidak halal bagi seorang wanita membuka rahasia rumah tangganya dan keadaan suaminya kepada seorangpun. Karena seorang wanita yang shalihah adalah yang bisa menjaga dan memelihara kedudukanmartabat suaminya. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam telah memberitakan, seburuk-buruk manusia kedudukannya disisi Allah pada hari Kiamat ialah seorang laki-laki yang suka menceritakan keburukan isterinya atau seorang wanita yang menceritakan keburukan suaminya.
Meski demikian, jangan dipahami bahwa secara mutlak seorang wanita tidak boleh menceritakan keburukan seorang suami. Karena, pada masa Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam pun ada seorang wanita yang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dan berkata: “Ya, Rasulullah. Suami saya adalah orang yang kikir, tidak memberi nafkah yang cukup bagi saya. Bolehkah saya mengambil darinya tanpa sepengetahuannya untuk sekedar mencukupi kebutuhan saya dan anak saya?”
Mendengar penuturan orang ini, Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam menjawab:
“Ambillah nominal yang mencukupi kebutuhanmu dan anakmu.” (Muttafaqun ‘alaih)
4. MEMBERIKAN PENGHORMATAN YANG HANGAT KPD PASANGANNYA
Memberikan penghormatan dengan hangat kepada pasangannya, baik ketika hendak pergi keluar rumah ataupun ketika pulang. Penghormatan itu hendaklah dilakukan dengan mesra. Dalam beberapa hadits diriwayatkan, ketika hendak pergi shalat, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam mencium isterinya tanpa berwudhu lagi dan langsung shalat. Ini menunjukkan, bahwa mencium isteri dapat mempererat hubungan antara suami isteri, meluluhkan kebekuan ataupun kekakuan antara suami isteri. Tentunya dengan melihat situasi, jangan dilakukan di hadapan anak-anak.
Perbuatan sebagian orang ketika seorang isteri menjemput suaminya yang datang dari luar kota atau dari luar negeri, ia mencium pipi kanan dan pipi kiri di tempat umum. Demikian ini tidak tepat. Memberikan penghormatan dengan hangat tidak mesti dengan mencium pasangannya. Misalnya, seorang suami dapat memanggil isterinya dengan baik, tidak menjelek-jelekkan keluarganya, tidak menegur isterinya dihadapan anak-anak mereka. Atau seorang isteri, bila melakukan penghormatan dengan menyambut kedatangan suaminya di depan pintu. Apabila suami hendak bepergian, isteri menyiapkan pakaian yang telah disetrika dan dimasukkannya ke dalam tas dengan rapi.
Suami hendaknya menghormati isterinya dengan mendengarkan ucapan isteri secara seksama. Sebab terkadang, ada sebagian suami, jika isterinya berbicara, ia justru sibuk dengan handphonenya mengirim sms atau sambl membaca Koran. Dia tidak serius mendengarkan ucapan isterinya. Dan jika menanggapinya, hanya dengan kata-kata singkat. Jika isteri mengeluh, suami mengatakan “hal seperti ini saja dipikirkan!”
Meskipun sepele atau ringan, tetapi hendaklah suami menanggapinya dengan serius, karena bagi isteri mungkin merupakan masalah yang besar dan berat.
5. HENDAKLAH MEMUJI PASANGANNYA
Di antara kebutuhan manusia adalah keinginan untuk di puji- dalam batas- yang wajar. Dalam masalah pujian ini, para ulama telah menjelaskan, bahwa pujian diperbolehkan atau bahkan dianjurkan dengan syarat-syarat: untuk memberikan motivasi, pujian itu diungkapkan dengan jujur dan tulus, dan pujian itu tidak menyebabkan orang yang dipuji menjadi sombong atau lupa diri.
Abu Bakar As Siddiq radhiallahu amhu pernah di puji, dan dia berdoa kepada Allah: “Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku dengan apa yang mereka ucapkan. Jangan jadikan dosa bagiku dengan pujian mereka, jangan timbulkan sifat sombong. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka, dan ampunilah aku atas perbuatan-perbuatan dosa yang mereka tidak ketahui.”
Perkataan ini juga di ucapkan oleh Syaikh Al Albani ketika beliau di puji-puji oleh seseorang dihadapan manusia. Beliau rahimahullah menangis dan mengucapkan perkataan Abu Bakar tersebut serta mengatakan: “Saya ini hanyalah penuntut ilmu saja”.
Seorang isteri senang pujian dari suaminya, khususnya dihadapan orang lain, seperti keluarga suami atau isteri. Dia tidak suka jika suami menyebutkan aibnya, khususnya dihadapan orang lain. Jika masakan isteri kurang sedap jangan dicela.
6. BERSAMA-SAMA MELAKUKAN TUGAS YANG RINGAN
Di antara kesalahan sebagian suami ialah, mereka menolak untuk melakukan sebagian tugas di rumah. Mereka mempunyai anggapan, jika melakukan tugas di rumah, berarti mengurangi kedudukannya, menurunkan atau menjatuhkan kewibawaannya di hadapan sang isteri. Pendapat ini tidak benar.
Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam melakukan tugas-tugas di rumah, seperti menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya dan melakukan tugas-tugas di rumah. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya dan terdapat dalam Jami’ush Shaghir. Terlebih lagi dalam keadaan darurat, seperti isteri sedang sakit setelah melahirkan. Terkadang isteri dalam keadaan repot, maka suami bisa meringankan beban isteri dengan memandikan anak atau menyuapi anak-anaknya. Hal ini disamping menyenangkan isteri, juga dapat menguatkan ikatan yang lebih erat lagi antara ayah dan anak-anaknya.
7. UCAPAN YANG BAIK
Kalimat yang baik adalah kalimat-kalimat yang menyenangkan. Hendaklah menghindari kalimat-kalimat yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan. Seorang suami yang menegur isterinya karena tidak berhias, tidak mempercantik diri dengan celak dimata, harus dengan ucapa yang baik. (Nasihat untuk akhwat yg berkeluarga atau ibu-ibu. Hendaknya wanita mempercantik diri dan berhias untuk suaminya. Yang terjadi, umumnya berdandan dan mempercantik diri kalau mau keluar rumah, atau kalau ada walimah, misalnya. Sedangkan di rumah, ia enggan mempercantik diri dan tampil seadanya. Padahal berdandan dan mempercantik diri untuk keluar rumah hukumnya haram.)
Misalnya dengan perkataan “Mengapa engkau tidak memakai celak?” Isteri menjawab dengan kalimat yang menyenangkan: “Kalau aku memakai celak, akan mengganggu mataku untuk melihat wajahmu”.
Perkataan yang demikian menunjukkan ungkapan perasaan cinta isteri kepada suami. Ketika ditegur, ia menjawab dengan kalimat yang menyenangkan. Berbeda dengan kasus lain. Saat suami isteri berjalan-jalan di bawah bulan pernama, suami bertanya:”Tahukah engkau bulan purnama di atas?” Mendengar pertanyaan ini, sang isteri menjawab:”Apakah engkau lihat aku buta?”
8. PERLU BEREKREASI BERDUA TANPA MEMBAWA ANAK
Rutinitas pekerjaan suami di luar rumah dan pekerjaan isteri di rumah membuat suasana menjadi keruh. Sekali-kali diperlukan suasana lain dengan cara pergi berdua tanpa membawa anak. Hal ini sangat penting, karena bisa memperbaharui cinta suami isteri. Kita mempunyai anak, lantas bagaimana caranya? Ini memang sebuah problem. Kita cari solusinya, jangan menyerah begitu saja.
Bukan berarti setelah mempunyai anak banyak tidak bisa pergi berdua. Tidak! kita bisa meminta tolong kepada saudara, kerabat ataupun tetangga untuk menjaga anak-anak, lalu kita dapat pergi bersilaturahmi atau belanja ke toko dan lain sebagainya. Kemudian pada kesempatan lainnya, kita pergi berekreasi membawa isteri dan anak-anak.
9. HENDAKLAH MEMILIKI RASA EMPATI PADA PASANGANNYA
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:
ayat10.
“Perumpamaan kaum mukminan antara satu dengan yang lainnya itu seperti satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh yang lain pun ikut merasakannya sebagai orang yang tidak dapat tidur dan orang yang terkena penyakit demam.” (HR. Muslim)
Ini berlaku secara umum kepada semua kaum muslimin. Rasa empati harus ada. Yaitu merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain, termasuk kepada isteri atau suami. Jangan sampai suami sakit, terbaring ditempat tidur, isteri tertawa-tawa disampingnya, bergurau, bercanda. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai karena kesibukan, suami kemudian kurang merasakan apa yang dirasakan oleh isteri.
10. PERLU ADANYA KETERBUKAAN
Keterbukaan antara suami dan isteri sangat penting. Di antara problem yang timbul di keluarga, lantaran antara suami dan isteri masing-masing menutup diri, tidak terbuka menyampaikan problemnya kepada pasangannya. Yang akhirnya kian menumpuk. Pada gilirannya menjadi lebih besar, sampai akhirnya meledak.
Ayo Menikah...oleH syair Nasyid Ar-Rayyan
Telah diciptakan 2 insan yang hidup di dunia
takdir Allah yang menyatukan jodoh manusia
Mengingatkan hati hidup ini hanya sementara
jangan lagi kau memikirkan materi semata
Berbahagialah manusia
yang telah menemukan fitrahnya
untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera
Bila saatnya telah tiba, jangan jadikan alasan untuk menunda
Menikah mengurangi dosa dan maksiat
Menikah menyatukan bahagia dan nikmat
Rezki manusia Allah mengaturnya
Jangan takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah manusia
Yang telah menemukan fitrahnya
Untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera
Bila saatnya telah tiba
Jangan dijadikan alasan untuk menunda
Jangan takut bila miskin harta
Bila hanya belum bekerja, atau takutnya rumah tangga
Kau jadikan alasan takut menikah
Jalan hidup tergantung niatmu
Bila kau yakin kau akan mampu
Ingatlah Allah selalu menyertaimu
takdir Allah yang menyatukan jodoh manusia
Mengingatkan hati hidup ini hanya sementara
jangan lagi kau memikirkan materi semata
Berbahagialah manusia
yang telah menemukan fitrahnya
untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera
Bila saatnya telah tiba, jangan jadikan alasan untuk menunda
Menikah mengurangi dosa dan maksiat
Menikah menyatukan bahagia dan nikmat
Rezki manusia Allah mengaturnya
Jangan takut bila kau niat untuk menikah
Berbahagialah manusia
Yang telah menemukan fitrahnya
Untuk membentuk keluarga yang sakinah
Menikahlah engkau segera
Bila saatnya telah tiba
Jangan dijadikan alasan untuk menunda
Jangan takut bila miskin harta
Bila hanya belum bekerja, atau takutnya rumah tangga
Kau jadikan alasan takut menikah
Jalan hidup tergantung niatmu
Bila kau yakin kau akan mampu
Ingatlah Allah selalu menyertaimu
Menjaga Rahasia Rumah Tangga
Menjaga Rahasia Rumah Tangga.
Masalah ini menyangkut beberapa hal, diantaranya:
1. Tidak menyebarkan rahasia hubungan intim suami isteri.
2. Tidak membawa keluar percekcokan suami isteri.
3. Tidak membuka kepada umum rahasia dan kekhususan apapun, hal yang apabila tampak akan membahayakan rumah tangga atau salah satu anggota keluarga.
Adapun petaka pertama, dalil pelarangannya, adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya, dan isteri yang mencumbui suaminya, kemudian ia sebarluaskan rahasianya".
Makna ( ) yaitu ia melakukan percampuran, percumbuan dan persetubuhan seperti dalam firman Allah:
"Bagaimana kamu mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri". (An-Nisa' : '21).
Diantara dalil pelarangan yang lain adalah hadits Asma' binti Yazid, bahwasanya ia berada pada majlis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang para lelaki dan perempuan sama duduk. Beliau bersabda:
"Barangkali ada laki-laki yang mengatakan tentang apa yang ia lakukan bersama isterinya, dan barangkali ada perempuan yang mengabarkan tentang apa yang ia lakukan bersama suaminya. Maka orang-orang pun terdiam, lalu aku katakan: "Ya (benar), demi Allah, wahai Rasulullah. Sungguh para wanita melakukan itu dan para lelaki juga demikian". Rasulullah berkata : "Jangan kalian lakukan, sebab hal itu sesungguhnya seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya sedang orang-orang pada melihatnya"."
Dalam riwayat Abu Daud disebutkan:
"Apakah ada diantara kamu laki-laki yang apabila mendatangi istrinya lalu mengunci pintunya dan menghamparkan kelambu penghalangnya dan ia bertabir dengan tabir Allah?" Mereka menjawab: "Ya benar". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (melanjutkan): "Setelah itu ia duduk lalu berkata: aku telah melakukan begini dan melakukan begitu" . Mereka terdiam,lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi para wanita kemudian bersabda: "Apakah di antara kalian ada yang membicarakannya ?" Mereka terdiam. Kemudian bangkitlah seorang gadis montok di atas salah satu lututnya dan mendongakkan diri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga beliau melihatnya dan mendengar ucapannya. Lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya para lelaki membicarakannya, demikian pula halnya dengan para wanita". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah kalian tahu apa perumpamaan hal tersebut? Sesungguhnya perumpamaan hal itu adalah seperti setan wanita yang bertemu dengan setan laki-laki di jalan, maka ia lampiaskan hajatnya sedang manusia melihat kepadanya"
Adapun perkara kedua yakni membawa keluar rumah percekcokan suami isteri, pada banyak kasus justru menambah ruwetnya persoalan, pihak ketiga ikut campur dalam perselisihan suami isteri sehingga pada sebagian besar kasus menambah persoalan baru.
Jalan keluarnya -jika orang lain ingin membantu, terutama orang yang paling dekat dengan keduanya - yaitu dengan melakukan surat menyurat antara keduanya. Hendaknya tidak mencampuri urusan tersebut kecuali karena alasan menjadi pihak yang mendamaikan secara langsung. Ketika itu kita lakukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu".(An-Nisa' :35).
Perkara ketiga, yaitu mengundang bahaya bagi rumah tangga atau salah satu dari anggotanya dengan menebarkan rahasia-rahasianya. Ini tidak boleh, sebab ia termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain".
Di antara contohnya yaitu seperti yang termaktub dalam firman Allah:
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri berkhianat kepada kedua suaminya...". (At-Tahrim: 10).
Ibnu Katsir dalam menukil tafsir ayat ini mengatakan: "Isteri Nuh tersebut selalu mengintip rahasia Nuh, apabila ada orang yang beriman kepada Nuh maka ia mengabarkan kepada para pembesar kaum Nuh tentang keimanan itu. Adapun isteri Luth maka jika Luth menerima tamu laki-laki, dikabarkannya hal itu kepada orang-orang yang biasa melakukan kejahatan (homosex)", yakni agar mereka datang lalu melakukan perbuatan homosex dengan tamu tersebut.
Masalah ini menyangkut beberapa hal, diantaranya:
1. Tidak menyebarkan rahasia hubungan intim suami isteri.
2. Tidak membawa keluar percekcokan suami isteri.
3. Tidak membuka kepada umum rahasia dan kekhususan apapun, hal yang apabila tampak akan membahayakan rumah tangga atau salah satu anggota keluarga.
Adapun petaka pertama, dalil pelarangannya, adalah sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Sesungguhnya di antara manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat yaitu laki-laki yang mencumbui isterinya, dan isteri yang mencumbui suaminya, kemudian ia sebarluaskan rahasianya".
Makna ( ) yaitu ia melakukan percampuran, percumbuan dan persetubuhan seperti dalam firman Allah:
"Bagaimana kamu mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami isteri". (An-Nisa' : '21).
Diantara dalil pelarangan yang lain adalah hadits Asma' binti Yazid, bahwasanya ia berada pada majlis Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sedang para lelaki dan perempuan sama duduk. Beliau bersabda:
"Barangkali ada laki-laki yang mengatakan tentang apa yang ia lakukan bersama isterinya, dan barangkali ada perempuan yang mengabarkan tentang apa yang ia lakukan bersama suaminya. Maka orang-orang pun terdiam, lalu aku katakan: "Ya (benar), demi Allah, wahai Rasulullah. Sungguh para wanita melakukan itu dan para lelaki juga demikian". Rasulullah berkata : "Jangan kalian lakukan, sebab hal itu sesungguhnya seperti setan laki-laki yang bertemu dengan setan perempuan di jalan lalu ia menyetubuhinya sedang orang-orang pada melihatnya"."
Dalam riwayat Abu Daud disebutkan:
"Apakah ada diantara kamu laki-laki yang apabila mendatangi istrinya lalu mengunci pintunya dan menghamparkan kelambu penghalangnya dan ia bertabir dengan tabir Allah?" Mereka menjawab: "Ya benar". Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda (melanjutkan): "Setelah itu ia duduk lalu berkata: aku telah melakukan begini dan melakukan begitu" . Mereka terdiam,lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi para wanita kemudian bersabda: "Apakah di antara kalian ada yang membicarakannya ?" Mereka terdiam. Kemudian bangkitlah seorang gadis montok di atas salah satu lututnya dan mendongakkan diri kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sehingga beliau melihatnya dan mendengar ucapannya. Lalu ia berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya para lelaki membicarakannya, demikian pula halnya dengan para wanita". Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apakah kalian tahu apa perumpamaan hal tersebut? Sesungguhnya perumpamaan hal itu adalah seperti setan wanita yang bertemu dengan setan laki-laki di jalan, maka ia lampiaskan hajatnya sedang manusia melihat kepadanya"
Adapun perkara kedua yakni membawa keluar rumah percekcokan suami isteri, pada banyak kasus justru menambah ruwetnya persoalan, pihak ketiga ikut campur dalam perselisihan suami isteri sehingga pada sebagian besar kasus menambah persoalan baru.
Jalan keluarnya -jika orang lain ingin membantu, terutama orang yang paling dekat dengan keduanya - yaitu dengan melakukan surat menyurat antara keduanya. Hendaknya tidak mencampuri urusan tersebut kecuali karena alasan menjadi pihak yang mendamaikan secara langsung. Ketika itu kita lakukan sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Maka kirimlah seorang hakam (juru pendamai) dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami isteri itu".(An-Nisa' :35).
Perkara ketiga, yaitu mengundang bahaya bagi rumah tangga atau salah satu dari anggotanya dengan menebarkan rahasia-rahasianya. Ini tidak boleh, sebab ia termasuk dalam sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh (pula) membahayakan orang lain".
Di antara contohnya yaitu seperti yang termaktub dalam firman Allah:
"Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang shalih di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua isteri berkhianat kepada kedua suaminya...". (At-Tahrim: 10).
Ibnu Katsir dalam menukil tafsir ayat ini mengatakan: "Isteri Nuh tersebut selalu mengintip rahasia Nuh, apabila ada orang yang beriman kepada Nuh maka ia mengabarkan kepada para pembesar kaum Nuh tentang keimanan itu. Adapun isteri Luth maka jika Luth menerima tamu laki-laki, dikabarkannya hal itu kepada orang-orang yang biasa melakukan kejahatan (homosex)", yakni agar mereka datang lalu melakukan perbuatan homosex dengan tamu tersebut.
Ta'aruf
Bismillahirrahmanirrahim
Ta'aruf sering diartikan dengan "perkenalan", kalau dihubungkan dengan pernikahan berarti ta'aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta'aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses selanjutnya. Pada tahapan ini,,setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri,cocok gak yah dengan kita,,trus apa aja sih yang diungkapkan kepada sang calon saat ta'aruf ??
1. Keadaan keluarga
Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak ke berapa,gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukanapa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang "Abi, boljug tuh kaya' ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi angsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!" Lho? :D
dimana2 orang tua kita pasti melihat keluarga sang calon dulu deh, maybe bagi kita tidak...ini sebagai jalan agar ortu kita merestui juga...hehehe:D
2. Harapan dan prinsip hidup
setiap pasangan pasti berharap ketika berumahtangga nanti pengen jadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah...dan yakinkan sang calon laki2 menjadi imam yang sesungguhnya,,ibarat nakhoda yang mengendarai kapal di laut...jangan hanya janji2nya saja,,,apalagi janji2 kita disaksikan oleh Allah dan malaikat...
mudah2an sang calon pasangan memiliki satu visi yah,,,dan berpegang pada prinsip hiduo yang sama...pd pedoman kitab Al Qur'an dan As-Sunnah...dan moga2 makin dekat dengan Allah yah :D amin.
3. Kesukaan dan yang tidak disukai
dijelaskan aja apa yang tidak disukai dan disukai...misalnya sang calon laki2 suka makan pedes2 tapi si perempuannya tidak suka,,,atau apalah itu..kita terima saja..selanjutnya terserah anda,,mau melanjutkan atau tidak..hehe
Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta'aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentuwajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa. :D
4. Ketakwaan calon pasangan
inilah tahap yang paling terpenting menurutku,,ketakwaan seseorang menjadi prioritas tertinggi. ketakwaan disini adalah ketaaatan terhadap Allah SWT lho,,,bukan nilai 'KETAKutan WAlimahAN' :D Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa
atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga
dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah...yang begini ini nih, 'calon suami kesayangan Allah dan
mertua :D
ingat !! (untuk diriku juga) ta'aruf itu hanya proses mengenal,, belum ada ikatan apa2 didalamnya untuk kelak pasti akan menikah kecuali sudah melakukan proses khitbah itu baru ada ikatan mengarah pernikahan. :D
kadang jadi penyakit juga sih krn alasan 'kan masih mau ta'aruf dulu"..uhhh mana ta'arufnya banyak banged,,sana-sini ta'aruf...udeeeee eeee,,malah yang ada makin bingung sendiri toh,
apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan baik dan matang..
semoga kita (bagi yang belum menemukan jodoh atau sedang dalam tahap mencari) segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tiada putus2nya menghiasi rongga kehidupan rumah tangga. kalaupun nanti ada airmata yang menetes,,semoga itu tanda air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT,,karena Dia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharapp keridhoan-Nya. amin allahumma amin..
Barakallahulaka barakallahu'alaika wajama'a bainakuma fii khairin.
Wallahu a'lam bishowab,.
Ta'aruf sering diartikan dengan "perkenalan", kalau dihubungkan dengan pernikahan berarti ta'aruf adalah proses saling mengenal antara calon laki-laki dan perempuan sebelum proses khitbah dan pernikahan. Karena itu perbincangan dalam ta'aruf menjadi sesuatu yang penting sebelum melangkah ke proses selanjutnya. Pada tahapan ini,,setiap calon pasangan dapat saling mengukur diri,cocok gak yah dengan kita,,trus apa aja sih yang diungkapkan kepada sang calon saat ta'aruf ??
1. Keadaan keluarga
Jelasin ke calon pasangan tentang anggota keluarga masing-masing, berapa jumlah sodara, anak ke berapa,gimana tingkat pendidikan, pekerjaan, dll. Bukanapa-apa, siapa tahu dapat calon suami yang anak tunggal, bokap ama nyokap kaya 7 turunan, sholat dan ibadahnya bagus banget, guanteng abis, lagi kuliah di Jepang (ehm), pokoknya selangit deh! Kalo ketemu tipe begini, sebelum dia atau mediatornya selesai ngomong langsung kasih kode, panggil ortu ke dalam bentar, lalu bilang "Abi, boljug tuh kaya' ginian jangan dianggurin nih. Moga-moga gak lama lagi angsung dikhitbah ya Bi, kan bisa diajak ke Jepang!" Lho? :D
dimana2 orang tua kita pasti melihat keluarga sang calon dulu deh, maybe bagi kita tidak...ini sebagai jalan agar ortu kita merestui juga...hehehe:D
2. Harapan dan prinsip hidup
setiap pasangan pasti berharap ketika berumahtangga nanti pengen jadi keluarga sakinah ma waddah wa rahmah...dan yakinkan sang calon laki2 menjadi imam yang sesungguhnya,,ibarat nakhoda yang mengendarai kapal di laut...jangan hanya janji2nya saja,,,apalagi janji2 kita disaksikan oleh Allah dan malaikat...
mudah2an sang calon pasangan memiliki satu visi yah,,,dan berpegang pada prinsip hiduo yang sama...pd pedoman kitab Al Qur'an dan As-Sunnah...dan moga2 makin dekat dengan Allah yah :D amin.
3. Kesukaan dan yang tidak disukai
dijelaskan aja apa yang tidak disukai dan disukai...misalnya sang calon laki2 suka makan pedes2 tapi si perempuannya tidak suka,,,atau apalah itu..kita terima saja..selanjutnya terserah anda,,mau melanjutkan atau tidak..hehe
Semua ini menjadi lebih mudah dilakukan karena telah dijelaskan saat ta'aruf. Namun harus diingat, menikah itu bukan untuk merubah pasangan lho, namun juga lantas bukan bersikap seolah-olah belum menikah. Perubahan sikap dan kepribadian dalam tingkat tertentuwajar aja-kan? Dan juga hendaknya perubahan yang terjadi adalah natural, tidak saling memaksa. :D
4. Ketakwaan calon pasangan
inilah tahap yang paling terpenting menurutku,,ketakwaan seseorang menjadi prioritas tertinggi. ketakwaan disini adalah ketaaatan terhadap Allah SWT lho,,,bukan nilai 'KETAKutan WAlimahAN' :D Karena apabila seorang lelaki senang, ia akan menghormati istrinya, dan jika ia tidak menyenanginya, ia tidak suka berbuat zalim kepadanya. Gimana dong caranya untuk melihat lelaki itu bertakwa
atau tidak? Tanyakan kepada orang-orang yang dekat dengan dirinya, misalnya kerabat dekat, tetangga
dekat, atau sahabatnya tentang ketaatannya menjalankan ketentuan pokok yang menjadi rukun Iman dan Islam dengan benar. Misalnya tentang sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, atau pula gimana sikapnya kepada tetangga atau orang yang lebih tua, dan lain-lain. Apalagi bila lelaki itu juga rajin melakukan ibadah sunnah, wah...yang begini ini nih, 'calon suami kesayangan Allah dan
mertua :D
ingat !! (untuk diriku juga) ta'aruf itu hanya proses mengenal,, belum ada ikatan apa2 didalamnya untuk kelak pasti akan menikah kecuali sudah melakukan proses khitbah itu baru ada ikatan mengarah pernikahan. :D
kadang jadi penyakit juga sih krn alasan 'kan masih mau ta'aruf dulu"..uhhh mana ta'arufnya banyak banged,,sana-sini ta'aruf...udeeeee eeee,,malah yang ada makin bingung sendiri toh,
apabila hukum pernikahan seorang laki-laki telah masuk kategori wajib, dan segalanya pun telah terencana dengan baik dan matang..
semoga kita (bagi yang belum menemukan jodoh atau sedang dalam tahap mencari) segera dipertemukan dengan pasangan hidup, dikumpulkan dalam kebaikan, kebahagiaan, kemesraan, canda tawa yang tiada putus2nya menghiasi rongga kehidupan rumah tangga. kalaupun nanti ada airmata yang menetes,,semoga itu tanda air mata kebahagiaan, tanda kesyukuran kepada Allah SWT,,karena Dia telah memberikan pasangan hidup yang selalu bersama mengharapp keridhoan-Nya. amin allahumma amin..
Barakallahulaka barakallahu'alaika wajama'a bainakuma fii khairin.
Wallahu a'lam bishowab,.
ProposaL niKaH
Bismillahirrahmanirrahim
di copy paste dari alamat sebelah...hehehe
selamat membaca yah,,,semoga bermanfaat dan bisa di usulkan ke orang tua kalian,,,
bagi yang ingin menikah, selamat berjuang menuju simfony cintaNya..
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. “Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,” ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga??, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a’lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di? majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur??an dan Al Hadits :
1. ?”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
2. “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ?Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui?? (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu?? (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14.?Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.” (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah? (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a.?Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b.?Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c.?Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.”
16. “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya??la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ??Man Jadda Wa Jadda?? (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk? tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ??Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya??? (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
• Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
• Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
• Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
• Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
• Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad) dan “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na’udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
• Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
• Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu’an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari? manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
• Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
• Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :
Innamal a’malu binniyat……. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.”(HR. Thabrani).
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama”. (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ??Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya’. “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo’akan pengantin dengan do’a : Barokallahu laka wa baroka ‘alaikum wa jama’a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (”Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama” - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS? PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
“Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan “Jazakumullah Khairan katsiira”. “Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin”
====================================
Dedicated to : My inspiration …. yang pernah singgah dan menghuni “hati” …Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. ” Saat Cinta dan Rindu? tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..”
gmn mau menggenapkan separuh dien ???
^__^
di copy paste dari alamat sebelah...hehehe
selamat membaca yah,,,semoga bermanfaat dan bisa di usulkan ke orang tua kalian,,,
bagi yang ingin menikah, selamat berjuang menuju simfony cintaNya..
Latar Belakang
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya cintai dan sayangi, semoga Allah selalu memberkahi langkah-langkah kita dan tidak putus-putus memberikan nikmatNya kepada kita. Amin
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati..sebagai hamba Allah, saya telah diberi berbagai nikmat. Maha Benar Allah yang telah berfirman : “Kami akan perlihatkan tanda-tanda kebesaran kami di ufuk-ufuk dan dalam diri mereka, sehingga mereka dapat mengetahui dengan jelas bahwa Allah itu benar dan Maha Melihat segala sesuatu”.
Nikmat tersebut diantaranya ialah fitrah kebutuhan biologis, saling membutuhkan terhadap lawan jenis.. yaitu: Menikah ! Fitrah pemberian Allah yang telah lekat pada kehidupan manusia, dan jika manusia melanggar fitrah pemberian Allah, hanyalah kehancuran yang didapatkannya..Na’udzubillah ! Dan Allah telah berfirman : “Janganlah kalian mendekati zina, karena zina adalah perbuatan yang buruk lagi kotor” (Qs. Al Israa’ : 32).
Ibunda dan Ayahanda tercinta..melihat pergaulan anak muda dewasa itu sungguh amat memprihatinkan, mereka seolah tanpa sadar melakukan perbuatan-perbuatan maksiat kepada Allah. Seolah-olah, dikepala mereka yang ada hanya pikiran-pikiran yang mengarah kepada kebahagiaan semu dan sesaat. Belum lagi kalau ditanyakan kepada mereka tentang menikah. “Saya nggak sempat mikirin kawin, sibuk kerja, lagipula saya masih ngumpulin barang dulu,” ataupun Kerja belum mapan , belum cukup siap untuk berumah tangga??, begitu kata mereka, padahal kurang apa sih mereka. Mudah-mudahan saya bisa bertahan dan bersabar agar tak berbuat maksiat. Wallahu a’lam.
Ibunda dan Ayahanda tersayang..bercerita tentang pergaulan anak muda yang cenderung bebas pada umumnya, rasanya tidak cukup tinta ini untuk saya torehkan. Setiap saya menulis peristiwa anak muda di? majalah Islam, pada saat yang sama terjadi pula peristiwa baru yang menuntut perhatian kita..Astaghfirullah.. Ibunda dan Ayahanda..inilah antara lain yang melatar belakangi saya ingin menyegerakan menikah.
Dasar Pemikiran
Dari Al Qur??an dan Al Hadits :
1. ?”Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. JIKA MEREKA MISKIN ALLAH AKAN MENGKAYAKAN MEREKA DENGAN KARUNIANYA. Dan Allah Maha Luas (pemberianNya) dan Maha Mengetahui.” (QS. An Nuur (24) : 32).
2. “Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyaat (51) : 49).
3. ?Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui?? (Qs. Yaa Siin (36) : 36).
4. Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik (Qs. An Nahl (16) : 72).
5. Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).
6. Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi pelindung (penolong) bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah ; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (Qs. At Taubah (9) : 71).
7. Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali. (Qs. An Nisaa (4) : 1).
8. Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga) (Qs. An Nuur (24) : 26).
9. ..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..(Qs. An Nisaa’ (4) : 3).
10. Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan RasulNya maka sesungguhnya dia telah berbuat kesesatan yang nyata. (Qs. Al Ahzaab (33) : 36).
11. Anjuran-anjuran Rasulullah untuk Menikah : Rasulullah SAW bersabda: “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku !”(HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a.).
12. Empat macam diantara sunnah-sunnah para Rasul yaitu : berkasih sayang, memakai wewangian, bersiwak dan menikah (HR. Tirmidzi).
13. Dari Aisyah, “Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu?? (HR. Hakim dan Abu Dawud). 14.?Jika ada manusia belum hidup bersama pasangannya, berarti hidupnya akan timpang dan tidak berjalan sesuai dengan ketetapan Allah SWT dan orang yang menikah berarti melengkapi agamanya, sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa diberi Allah seorang istri yang sholihah, sesungguhnya telah ditolong separoh agamanya. Dan hendaklah bertaqwa kepada Allah separoh lainnya.” (HR. Baihaqi).
14. Dari Amr Ibnu As, Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya ialah wanita shalihat.(HR. Muslim, Ibnu Majah dan An Nasai).
15. “Tiga golongan yang berhak ditolong oleh Allah? (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim) : a.?Orang yang berjihad / berperang di jalan Allah. b.?Budak yang menebus dirinya dari tuannya. c.?Pemuda / i yang menikah karena mau menjauhkan dirinya dari yang haram.”
16. “Wahai generasi muda ! Bila diantaramu sudah mampu menikah hendaklah ia nikah, karena mata akan lebih terjaga, kemaluan akan lebih terpelihara.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud).
17. Kawinlah dengan wanita yang mencintaimu dan yang mampu beranak. Sesungguhnya aku akan membanggakan kamu sebagai umat yang terbanyak (HR. Abu Dawud).
18. Saling menikahlah kamu, saling membuat keturunanlah kamu, dan perbanyaklah (keturunan). Sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya jumlahmu di tengah umat yang lain (HR. Abdurrazak dan Baihaqi).
19. Shalat 2 rakaat yang diamalkan orang yang sudah berkeluarga lebih baik, daripada 70 rakaat yang diamalkan oleh jejaka (atau perawan) (HR. Ibnu Ady dalam kitab Al Kamil dari Abu Hurairah).
20. Rasulullah SAW. bersabda : “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).
21. Diantara kamu semua yang paling buruk adalah yang hidup membujang, dan kematian kamu semua yang paling hina adalah kematian orang yang memilih hidup membujang (HR. Abu Ya??la dan Thabrani).
22. Dari Anas, Rasulullah SAW. pernah bersabda : Barang siapa mau bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih lagi suci, maka kawinkanlah dengan perempuan terhormat. (HR. Ibnu Majah,dhaif).
23. Rasulullah SAW bersabda : Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian diantaramu. Sesungguhnya, Allah akan memperbaiki akhlak, meluaskan rezeki, dan menambah keluhuran mereka (Al Hadits).
Tujuan Pernikahan
1. Melaksanakan perintah Allah dan Sunnah Rasul.
2. Melanjutkan generasi muslim sebagai pengemban risalah Islam.
3. Mewujudkan keluarga Muslim menuju masyarakat Muslim.
4. Mendapatkan cinta dan kasih sayang.
5. Ketenangan Jiwa dengan memelihara kehormatan diri (menghindarkan diri dari perbuatan maksiat / perilaku hina lainnya).
6. Agar kaya (sebaik-baik kekayaan adalah isteri yang shalihat).
7. Meluaskan kekerabatan (menyambung tali silaturahmi / menguatkan ikatan kekeluargaan)
Kesiapan Pribadi
1. Kondisi Qalb yang sudah mantap dan makin bertambah yakin setelah istikharah. Rasulullah SAW. bersabda : ??Man Jadda Wa Jadda?? (Siapa yang bersungguh-sungguh pasti ia akan berhasil melewati rintangan itu).
2. Termasuk wajib nikah (sulit untuk shaum).
3. Termasuk? tathhir (mensucikan diri).
4. Secara materi, Insya Allah siap. ??Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya??? (Qs. At Thalaq (65) : 7)
Akibat Menunda atau Mempersulit Pernikahan
• Kerusakan dan kehancuran moral akibat pacaran dan free sex.
• Tertunda lahirnya generasi penerus risalah.
• Tidak tenangnya Ruhani dan perasaan, karena Allah baru memberi ketenangan dan kasih sayang bagi orang yang menikah.
• Menanggung dosa di akhirat kelak, karena tidak dikerjakannya kewajiban menikah saat syarat yang Allah dan RasulNya tetapkan terpenuhi.
• Apalagi sampai bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya. Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia bersunyi sepi berduaan dengan wanita yang tidak didampingi mahramnya, karena yang menjadi pihak ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad) dan “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi lebih baik, daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (HR. Thabrani dan Baihaqi).. Astaghfirullahaladzim.. Na’udzubillahi min dzalik
Namun, umumnya yang terjadi di masyarakat di seputar pernikahan adalah sebagai berikut ini :
• Status yang mulia bukan lagi yang taqwa, melainkan gelar yang disandang:Ir, DR, SE, SH, ST, dsb
• Pesta pernikahan yang wah / mahar yang tinggi, sebab merupakan kebanggaan tersendiri, bukan di selenggarakan penuh ketawadhu’an sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. (Pernikahan hendaklah dilandasi semata-mata hanya mencari ridha Allah dan RasulNya. Bukan di campuri dengan harapan ridha dari? manusia (sanjungan, tidak enak kata orang). Saya yakin sekali.. bila Allah ridha pada apa yang kita kerjakan, maka kita akan selamat di dunia dan di akhirat kelak.)
• Pernikahan dianggap penghalang untuk menyenangkan orang tua.
• Masyarakat menganggap pernikahan akan merepotkan Studi, padahal justru dengan menikah penglihatan lebih terjaga dari hal-hal yang haram, dan semakin semangat menyelesaikan kuliah.
Memperbaiki Niat :
Innamal a’malu binniyat……. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungan pada apa-apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya, baik secara segera maupun ditangguhkan.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Rasulullah bersabda “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu dibarakahi-Nya, Siapa yang menikahi seorang wanita karena kedudukannya, Allah akan menambahkan kehinaan kepadanya, Siapa yang menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan, Siapa yang menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambahkan kerendahan padanya, Namun siapa yang menikah hanya karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau karena ingin mempererat kasih sayang, Allah senantiasa memberi barakah dan menambah kebarakahan itu padanya.”(HR. Thabrani).
“Janganlah kamu menikahi wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu membuatmu hina. Jangan kamu menikahi wanita karena harta / tahtanya mungkin saja harta / tahtanya membuatmu melampaui batas. Akan tetapi nikahilah wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang shaleh, meskipun buruk wajahnya adalah lebih utama”. (HR. Ibnu Majah).
Nabi SAW. bersabda : Janganlah kalian menikahi kerabat dekat, sebab (akibatnya) dapat melahirkan anak yang lemah (baik akal dan fisiknya) (Al Hadits).
Dari Jabir r.a., Sesungguhnya Nabi SAW. telah bersabda, ??Sesungguhnya perempuan itu dinikahi orang karena agamanya, kedudukan, hartanya, dan kecantikannya ; maka pilihlah yang beragama.” (HR. Muslim dan Tirmidzi). Niat dalam Proses Pernikahan
Masalah niat tak berhenti sampai memilih pendamping. Niat masih terus menyertai berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan. Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, menyelenggarakan walimah. Walimah lebih dari dua hari lebih dekat pada mudharat, sedang walimah hari ketiga termasuk riya’. “Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan.”(Qs. An Nisaa (4) : 4).
Rasulullah SAW bersabda : “Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih). Dari Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW. telah bersabda, “Sesungguhnya berkah nikah yang besar ialah yang sederhana belanjanya (maharnya)” (HR. Ahmad). Nabi SAW pernah berjanji : “Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : ” Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya” (Ditakhrij dari An Nasa’i)..Subhanallah..
Proses pernikahan mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana dan mudah insya Allah akan mendekatkan kepada bersihnya niat, memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat. Sedangkan mempersulit proses pernikahan akan mengkotori niat. “Adakanlah perayaan sekalipun hanya memotong seekor kambing.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan haruslah memenuhi kriteria Lillah, Billah, dan Ilallah. Yang dimaksud Lillah, ialah niat nikah itu harus karena Allah. Proses dan caranya harus Billah, sesuai dengan ketentuan dari Allah.. Termasuk didalamnya dalam pemilihan calon, dan proses menuju jenjang pernikahan (bersih dari pacaran / nafsu atau tidak). Terakhir Ilallah, tujuannya dalam rangka menggapai keridhoan Allah.
Sehingga dalam penyelenggaraan nikah tidak bermaksiat pada Allah ; misalnya : adanya pemisahan antara tamu lelaki dan wanita, tidak berlebih-lebihan, tidak makan sambil berdiri (adab makanan dimasyarakat biasanya standing party-ini yang harus di hindari, padahal tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW yang demikian), Pengantin tidak disandingkan, adab mendo’akan pengantin dengan do’a : Barokallahu laka wa baroka ‘alaikum wa jama’a baynakuma fii khoir.. (Semoga Allah membarakahi kalian dan melimpahkan barakah kepada kalian), tidak bersalaman dengan lawan jenis, Tidak berhias secara berlebihan (”Dan janganlah bertabarruj (berhias) seperti tabarrujnya jahiliyah yang pertama” - Qs. Al Ahzab (33),
Meraih Pernikahan Ruhani
Jika seseorang sudah dipenuhi dengan kecintaan dan kerinduan pada Allah, maka ia akan berusaha mencari seseorang yang sama dengannya. Secara psikologis, seseorang akan merasa tenang dan tentram jika berdampingan dengan orang yang sama dengannya, baik dalam perasaan, pandangan hidup dan lain sebagainya. Karena itu, berbahagialah seseorang yang dapat merasakan cinta Allah dari pasangan hidupnya, yakni orang yang dalam hatinya Allah hadir secara penuh. Mereka saling mencintai bukan atas nama diri mereka, melainkan atas nama Allah dan untuk Allah.
Betapa indahnya pertemuan dua insan yang saling mencintai dan merindukan Allah. Pernikahan mereka bukanlah semata-mata pertemuan dua insan yang berlainan jenis, melainkan pertemuan dua ruhani yang sedang meniti perjalanan menuju Allah, kekasih yang mereka cintai. Itulah yang dimaksud dengan pernikahan ruhani. KALO KITA BERKUALITAS DI SISI ALLAH, PASTI YANG AKAN DATANG JUGA SEORANG (JODOH UNTUK KITA) YANG BERKUALITAS? PULA (Al Izzah 18 / Th. 2)
Penutup
“Hai, orang-orang beriman !! Janganlah kamu mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah kepada kamu dan jangan kamu melampaui batas, karena Allah tidak suka kepada orang-orang yang melampaui batas.” (Qs. Al Maidaah (5) : 87).
Karena sesungguhnya setelah kesulitan itu ada kemudahan. Dan sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan (Qs. Alam Nasyrah (94) : 5- 6 ).
Ibunda dan Ayahanda yang sangat saya hormati, saya sayangi dan saya cintai atas nama Allah.. demikanlah proposal ini (secara fitrah) saya tuliskan. Saya sangat berharap Ibunda dan Ayahanda.. memahami keinginan saya. Atas restu dan doa dari Ibunda serta Ayahanda..saya ucapkan “Jazakumullah Khairan katsiira”. “Ya Allah, jadikanlah aku ridho terhadap apa-apa yang Engkau tetapkan dan jadikan barokah apa-apa yang telah Engkau takdirkan, sehingga tidak ingin aku menyegerakan apa-apa yang engkau tunda dan menunda apa-apa yang Engkau segerakan.. YA ALLAH BERILAH PAHALA DALAM MUSIBAHKU KALI INI DAN GANTIKAN UNTUKKU YANG LEBIH BAIK DARINYA.. Amiin”
====================================
Dedicated to : My inspiration …. yang pernah singgah dan menghuni “hati” …Astaghfirullah !! Saat langkah ada didunia maya, tak menapak di bumi-Nya..Lalu, kucoba atur gelombang asa..Robbi kudengar panggilanMu tuk meniti jalan RidhoMu.. Kuharap ada penolong dari hambaMu meneguhkan tapak kakiku di jalan-Mu dan menemani panjangnya jalan dakwah yang harus aku titi.. ” Saat Cinta dan Rindu? tuk gapai Syurga dan Syahid di jalanNya makin membuncah..”
gmn mau menggenapkan separuh dien ???
^__^
Bila aku jatuh cinta (karya : As Syahid Syed Qutb)
Bismillahirrahmanirrahim
Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah
pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kukuhkanlah Ya Allah
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin
===============================================================
Subhanallah..puisi diatas bagus banged penuh penjiwaan. Kita tahu bahwa cinta sejati hanyalah pada Allah SWT semata. Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah..Tidak ada yang salah pada cinta,,berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat...Semoga kita semua tergolong orang2 yang saling mencintai karena Allah...amin allahumma amin...
Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.
Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu
Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.
Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling pada hati-Mu.
Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.
Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.
Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.
Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.
Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.
Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta
pada-Mu, telah berjumpa pada taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah
pada-MU, telah berpadu dalam membela syariat-Mu. Kukuhkanlah Ya Allah
ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah
hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.
Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin
===============================================================
Subhanallah..puisi diatas bagus banged penuh penjiwaan. Kita tahu bahwa cinta sejati hanyalah pada Allah SWT semata. Cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan. Namun Allah tidak egois mendominasi cinta hamba-Nya. Dia berikan kita cinta kepada anak, istri, suami, orang tua, kaum muslimin. Tapi cinta itu tentu porsinya tidak melebihi cinta kita pada Allah..Tidak ada yang salah pada cinta,,berusahalah menempatkannya pada tempat, waktu dan sisi yang tepat...Semoga kita semua tergolong orang2 yang saling mencintai karena Allah...amin allahumma amin...
TIPS MASALAH SEPUTAR PERAN IBU RUMAH TANGGA
Bismillahirrahmanirrahim
Apapun profesi yang ibu sandang tetap saja ada sisi positif dan negative. Profesi sebagai ibu rumah tangga memang belum menempati penilaian yang baik di mata masyarakat. Oleh karena itu, tidak sedikit ibu rumah tangga yang dipandang sebelah mata. Belum lagi dalam rumah tangga sendiri, banyak suami yang berpendapat kalau urusan rumah tangga memang tanggung jawab ibu sepenuhnya. Sehingga apapun yang dilakukan ibu beserta pengorbanannya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan selayaknya dilakukan. Hal ini berakibat kurangnya penghargaan suami dan anak atas apa yang telah dilakukan istri atau ibu di rumah. Kalau seorang ibu termasuk orang yang ‘gila’ penghargaan dari orang lain, mungkin perlakuan ini begitu menyakitkan. Maka, akan menjadi sosok yang uring-uringan, dan yang paling menyedihkan, sasaran uring-uringan biasanya terhadap anak dan suami. Padahal hanya untuk orang-orang inilah (suami dan anak) kita semua berkorban.
Sebagai ibu rumah tangga hendaknya merasa bangga atas peran yang disandangnya. Bagaimana tidak, ibu merupakan kunci kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Dengan pengorbanan seorang ibu, akan terlahir anak-anak yang tangguh iman, mental, fisik dan psikisnya, sehingga mampu meneruskan tegaknya risalah Allah di muka bumi ini. Semua pengorbanan yang dilakukan untuk anak dan suami telah digaransi dari Allah ini, maka surgalah balasannya.
Kita telah mengetahui betapa dahsyatnya peran ibu dalam pendidikan anak untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas. Maka, hendaklah kita semua kembali pada ajaran Islam untuk menjalankan peran sebagai ibu dengan sebenar-benarnya. Jangan terpancing oleh suatu trend yang belum jelas sumbe maupun akhirnya. Dengan alas an emansipasi, jangan terpancing untuk menggantikan peran ibu bagi anak-anak ke pengasuhan orang lain. Anak bukanlah robot yang hanya membutuhkan perawatan saja, namun mereka juga membutuhkan sosok panutan, pengasuhan serta pendidikan yang baik.
Remaja sekarang yang sangat akrab dengan berbagai penyimpangan adalah produk orang tua beberapa tahun silam. Kalau toh sekarang seorang ibu mempunyai anak balita,apakah sanggup ia memproduksi generasi yang sama dengan situasi generasi sekarang, atau malah lebih parah lagi kondisinya? Ingat, setelah manusia mati akan terputus segala amal kecuali tiga hal ; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang shaleh. Anak yang shaleh merupakan investasi yang tidak akan terhenti hasilnya. Kita bisa menikmati hasil anak yang shaleh, ketika kita masih hidup di dunia dan ketika kita sudah mati. Untuk mempersiapkan anak supaya menjadi generasi yang shaleh/shalehah tidak bisa dilakukan secara instant. Itu semua membutuhkan suatu proses pengorbanan.
Sebagai makhluk, kita menyadari tujuan Allah menciptakan semua makhluk di muka bumi ini tiada lain kecuali untuk menyembahNya. Tidak ada upaya yang lebih mulia selain untuk beribadah kepada Allah dan mencari ridhaNya. Segala sesuatu telah ditentukan Allah, tak terkecuali peran mulia seorang wanita, yaitu sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya. Rasulullah bersabda :
“ seorang ibu adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….”(HR Muslim).
Sebagai pemimpin, hendaklah kita memegang amanah tentang kedudukan kita, dan berusaha menjalankan peran sebaik-baiknya sehingga tujuan kelompok yang kita pimpin (keluarga) dapat tercapai, yaitu memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Peran sebagai ibu rumah tangga menuntut ‘jam kerja’ yang tiada habisnya. Demi berhasilnya peran ini, dibutuhkan kerjasama yang baik antara suami dan istri sehingga bisa menyelamatkan keluarga. Allah memperingatkan umat manusia untuk memelihara diri dan keluarga dari apai neraka (QS. At Tahiim ayat 6). Ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu para ibu dalam menjiwai perannya, yaitu antara lain:
Dengan suami
Suami adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai pemimpin, mereka berhak memutuskan. Namun sang istri yang bertanggungjawab terhadap keluarga, juga berhak memberikan berbagai masukan. Suami tidak akan bisa memberikan keputusan yang bijak tanpa melibatkan istrinya, karena sang istri yang mengelola keluarga dan mengetahui seluk beluk anggota keluarga. Tanpa mempertimbangkan posisi suami, sang istri juga tidak bisa memutuskan secara bijak, karena keluarga tetap membutuhkan sumbangsih pemikiran kepala keluarga.
Suami adalah partner dalam mewujudkan tujuan keluarga kita. Usahakan seorang istri bisa membina hubungan dengan suami secara jujur, terbuka dan intens. Dengan sikap ini, bersama-sama suami akan menentukan langkah-langkah pencapaiannya dan memecahkan kendala yang ada. Antara keduanya harus mengetahui kelemahan serta kelebihan masing-masing dan saling mendukung.
Sangat penting menyamakan tujuan, visi, serta misi keluarga. Karena akan dapat menyelamatkan keutuhan rumah tangga, serta kita mengemban amanah yaitu menghantarkan anak meraih surganya. Hal-hal yang menyangkut anak tetap harus melibatkan kedua orang tuanya. Sehingga di mata anak, keduanya demikian kompak sehingga anak akan mudah ‘terbentuk’ karakternya.
Keterbukaan bisa dijalin dalam berbagai hal; misalnya, si istri mengutarakan bahwa ia merasakan kecapekan menangani tiga anak dengan jarak umur yang begitu dekat. Suami bisa membantu menyelesaikan beberapa tugas rumah atau menyediakan pembantu, sehingga memperingan tugas istri, dan posisi istri sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya akan optimal. Keterbukaan dengan suami bisa kita latih sedini mungkin. Kalau kita termasuk orang yang susah memulai keterbukaan, mulailah dengan menanyakan hal-hal yang disukai suami dan dalam suasana yang santai (plus manjakan suami dengan memberikan teh hangat,,menghayal mode on..hehehe), misalnya menanyakan mengapa dahulu memilihnya untuk dijadikan istri. Demikian juga bagi istri akan memberikan masukan ke suami, alasan mengapa dulu istri mau diperistri dengannya (wah,,wah,,wah,, kira2 nanti nih aku musti jawab apa yah???heheh). Hal ini selain untuk mengawali jalan keterbukaan, juga akan menimbulkan rasa romantis antar suami istri,,,duileeeeeee,,,,romantis boo,,hehe
Bisa juga menanyakan makanan kesukaannya, atau suami ingin diperlakukan seperti apa. Ingat keterbukaan akan terjalin dengan baik kalau dilakukan dalam suasana yang santai dan suasana hati yang senang. Jangan awali keterbukaan dengan mengkritiknya terlebih dahulu. Orang yang dikritik biasanya akan ‘terluka’ sehingga lebih memungkinkan ia menghindar dan menyerang. Bukannya keterbukaan yang didapat, mungkin malah akan menimbulkan pertengkaran. Sebagai istri pasti tahu suasana hati suami setiap saat. Kalau suatu saat suasana hatinya buruk, ia bisa menghiburnya atau menunda apa yang akan disampaikan. Setelah membaik suasana hatinya, baru bisa mengajaknya untuk berdiskusi. Istri bisa membuat komitmen untuk selalu saling menjaga. Tidak hanya pihak istri saja yang harus ‘ngemong’ perasaan suami, tapi suami juga harus ‘ngemong’ perasaan istri. Dengan adanya rasa ‘saling’ menjaga, niscaya kehangatan dalam rumah tangga akan selalu terjaga.
Dengan anak
Anak adalah permata hati kedua orang tuanya. Mereka tidak minta dilahirkan, namun orang tua yang mengupayakan. Apabila kita telah dikaruniai anak, biasanya prioritas utamanya adalah pemenuhan kebutuhan anak. Mayoritas ibu seringkali menomorduakan kepentingan serta kebutuhannya demi anak. Bahkan tak jarang, kebutuhan suami juga dinomorduakan setelah kebutuhan anak (biasanya suami juga setuju). Namun demikian, tidak terlalu memanjakan anak. Anak memerlukan perawatan dan pendidikan. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan jasmani saja, namun tempaan pendidikan juga mutlak diberikan.
Kenapa demikian? Karena anak merupakan amanah dari Allah. Allah mempercayakan kepada kita untuk merawat dan mendidiknya. Oleh karena itu hasil kahir, yaitu terbentuknya anak yang shaleh/shalehah akan kita pertanggungjawabkan. Anak yang shaleh ini tidak akan tercipta kalau tidak ada pendidikan yang islami dalam keluarga. Kedua orang tua harus menyamakan persepsi tentang pendidikan, pembiasaan baik di rumah, serta pemilihan sekolah. Titik sentral tanggung jawab pendidikan tetap berada di tangan orang tuanya (terutama ibu yang bertindak sebagao ‘pemimpin’ anak-anak). Tidak jarang, para ibu menangani anak dalam situasi yang sulit, dimana kondisi seorang ibu sudah capek menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, dan anak melakukan berbagai kenakalan/kerewelan.
Kalau tidak menyadari peran dan tanggung jawab kita, tidak mustahil akan mudah marah. Dengan sedikit perhatian dan komunikasi ini biasanya suasana akan mencair. Dalam keseharian, harus ditanamkan saling hormat, saying, dan bantu antar anggota keluarga,sehingga kejadian saingan atau iri antar saudara bisa ditekan. Seringkali, beberapa ibu yang jengkel menghadapi anaknya yang rewel. Tidak sedikit ibu yang membentak anaknya yang sedang menangis agardiam. Sebelum amarah itu ‘meledak’ coba kita tempatkan posisi ke anak, kenapa ia menangis. Coba perhatikan butiran air mata yang mengalir di pipinya, dengan memperhatikan ekspresi wajah yang menampakkan rasa tidak berdaya anak sewaktu menangis, kita bisa menahan untuk tidak cepat ‘meledak’. Setelah itu, kita telusuri sambil berdiskusi kenapa ia menangis, apa dia sakit, merasa kurang aman, merasa iri, takut, marah, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa bersikap dengan bijak. Namun hati-hati, tetap memegang prinsip yang terbaik buat anak. Jangan asal anak menangis, kemudian mengasih kasih apapun permintaanya, ini malah berbahaya. Misalnya, anak minta banyak permen padahal kita telah memberinya. Untuk mensikapi anak ini, harus tetap teguh pendirian kalau pemberian permen dibatasi. Hal ini demi kesehatan anak juga pendisiplinan.
Pekerjaan sehari-hari
Selain masalah anak-anak, biasanya ibu banyak berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Coba perhatikan beberapa pekerjaan sehari-hari ini : Bangun pagi; memasak (nasi, sayur, lauk), memandikan anak (blmpi ada anakku,,huehehe), mempersiapkan sarapan, menyuapi anak (kalau ada yang belum mandiri di’), membereskan rumah (olahraga sekalian hehe), mencuci piring,gelas, perkakas, mencuci baju, menjemur. Kesemuanya ini biasanya bisa selesai menjelang siang hari. Lalu kita bisa bermain sebentar dengan anak, dan dilanjutkan tugas lagi : menyuapi anak makan siang, menidurkan anak, menyetrika baju, memandikan anak (sore), menyediakan makanan tambahan dan susu anak, menyuapi anak makan malam, menyediakan teh hangat dan snack untuk suami (hmmmm istri yang perhatian nih,,heheh), mencuci perkakas, merapikan rumah, istirahat malam. Pekerjaan rumah senantiasa tidak ada habisnya, apalagi kita yang masih mempunyai anak balita/batita. Jumlah anak yang lebih dari tiga dan jarak usianya yang dekat membuat ibu terfokus pada anak (edd,,,cibuknya….). ada saja ulahnya, sehingga pekerjaan rumah kadangkala tertunda. Mereka umumnya masih membutuhkan perhatian yang penuh dari ibunya, misalnya jadwal pemberian ASI, makan, suplemen, dan buah. Misalnya kita masih memberikan ASI ke anak terkecil, si tengah (anak kedua) minta digendong, sedangkan, sedangkan si sulung minta didampingi bermain atau belajar. Belum lagi kerewelan anak karena merasa iri dengan saudaranya, minta perhatian ibu, berebut mainan,,,,(tambah repot yah kayaknya,,,,,,huehehe).
Pekerjaan yang tiada habisnya ini akan membuat ibu kelelahan. Coba diskusikan ke suami, kita minta bantuan suami untuk membereskan sebagian tugas rumah tangga, sehingga beban tugas tidak hanya dipikul istrinya.
Tujuan terbesar saat ini adalah perhatian ke anak, sehingga antara suami dan istri harus mau berbagi tugas rumah tangga. Kalau suami sangat sibuk dan tidak bisa diganggu karena tugas kantor yang demikian banyak, suami bisa mennyediakan pembantu di rumah. Ternyata, kalau suatu hari suami sibuk dan tidak ada pembantu, mungkin kita bisa mengatur jadwal beres-beres rumah. Tidak semuanya dilakukan di pagi hari dan tidak semuanya dilakukan setiap hari. Misalnya memasak wajib di pagi hari, namun mencuci baju dan perkakas rumah bisa dilakukan siang hari, sedangkan menyetrika dilakukan tiga hari sekali (itu tidak semua baju, yang penting saja, sebagian hanya dilipat langsung tanpa disetrika), membereskan rumah sekali sehari dan dilakukan disela jadwal padat itu (mungkin malam hari/menjelang subuh). Yang terpenting dari itu semua, focus kita tetap ke suami dan anak. Antara kita dan suami harus berbagi tanggung jawab, berbagi suka dan berbagi beban kerja,,,hmmm indah bukan????ckckck.
Keuangan
Kita sebagai ibu rumah tangga juga bertindak sebagai manager keuangan di rumah. Biasanya gaji suami akan diserahkan sepenuhnya, dan kita akan mengaturnya. Sebagai seorang manager, kita harus bijak bertindak. Kita harus mengetahui pos pengeluaran yang penting dan wajib kita keluarkan, misalnya untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, transportasi, listrik, telepon, pam, kesehatan, kebersihan kampong, selain itu sebagian harus kita sisihkan untuk tabungan dan cadangan tak terduga. Yang pasti kita tidak boleh mencipatakan kebutuhan hanya berdasarkan rasa ingin membeli,serta bersikap berlebihan dalam berbelanja.
Kita juga bisa mengembangkan uang tersebut, dengan melakukan usaha untuk menambah penghasilan atau menitipkan modal untuk usaha orang lain dengan sistem bagi hasil. Kalau anak kita telah mandiri, mungkin kita bisa melakukan berbagai usaha yang bisa mendatangkan uang, asal tetap menomorsatukan kelurga. Lebih baik lagi apabila pusat kegiatan perekonomian yang kita ciptakan berasal dari rumah kita sendiri sehingga pengawasan terhadap anak dan perhatian ke suami tidak akan terkurangi. Dengan demikian pemasukan keluarga akan bertambah. Itu semua harus seijin dan sepengetahuan suami.
Masyarakat
Masyarakat adalah orang-orang yang berada di luar keluarga kita, namun kita bisa berhubungan dengan mereka secara baik. Hal ini dilakukan untuk terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri sangat beragamnya sifat yang dimiliki tiap anggota masyarakat. Kita harus bergaul dengan semuanya, tetapi tanpa meleburkan jati diri kita ke mereka. Yang pasti, kita harus mengetahui posisi kita sebagai ibu rumah tangga, yang tetap menomorsatukan suami dan anak-anak. Jangan membandingkan keluarga kita dengan para tetangga yang lebih beruntung, syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Kita tetap mengikuti kegiatan masyarakat yang bermanfaat, misalnya mendatangi majelis taklim, mengikuti pertemuan PKK, serta ikut bergotong royong, dan lain sebagainya. Tidak sedikit kita jumpai, seorang ibu rumah tangga yang menyukai hang out dengan kelompoknya. Mereka membentuk suatu kelompok untuk bersenang-senang sendiri tanpa melibatkan suami dan anak-anak. Adakalanya kita mempunyai tetangga yang begitu usil baik perilaku, sikap maupun hatinya, sehingga menimbulkan berbagai masalah. Untuk mensikapi hal ini, kita berhak memilih dengan siapa kita berteman. Teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran serta kita terhindar dari bahaya perilaku dan sikapnya, (SANGAT SATUJUH!!!!!)….
Oleh : Nurul Chomariah
Dengan mengetahui berbagai tips diatas, diharapkan kita bisa ‘mengalir’ menjalankan peran tanpa timbul berbagai ganjalan yang mengurangi keikhlasan kita. Apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari ibadah kita kepada Allah. Kita hanya mengaharapkan ridha Allah. Kita harus selalu ingat akan tujuan tertinggi kita, yaitu melakukan jihad di jalan Allah. Dengan selalu mengingatnya, seberat apapun pekerjaan yang kita jalani, kita akan selalu merasa ringan karena sebenarnya apapun yang kita lakukan untuk keluarga adalah bentuk cinta kita terhadap mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda :
“ Hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang paling bermanfaat bagi anggota keluarganya “ (HR. Abdullah dan Ahmad).
Para ibu-ibu kompleks gimana nih,,,,udah siapkah kita berjuang menjadi ibu yang penuh cinta?????? Semoga kita, yang udah merit,,dan yang lagi pengen merit, mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi keluarga kita semua ya, Amin…. ^__^
Apapun profesi yang ibu sandang tetap saja ada sisi positif dan negative. Profesi sebagai ibu rumah tangga memang belum menempati penilaian yang baik di mata masyarakat. Oleh karena itu, tidak sedikit ibu rumah tangga yang dipandang sebelah mata. Belum lagi dalam rumah tangga sendiri, banyak suami yang berpendapat kalau urusan rumah tangga memang tanggung jawab ibu sepenuhnya. Sehingga apapun yang dilakukan ibu beserta pengorbanannya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan selayaknya dilakukan. Hal ini berakibat kurangnya penghargaan suami dan anak atas apa yang telah dilakukan istri atau ibu di rumah. Kalau seorang ibu termasuk orang yang ‘gila’ penghargaan dari orang lain, mungkin perlakuan ini begitu menyakitkan. Maka, akan menjadi sosok yang uring-uringan, dan yang paling menyedihkan, sasaran uring-uringan biasanya terhadap anak dan suami. Padahal hanya untuk orang-orang inilah (suami dan anak) kita semua berkorban.
Sebagai ibu rumah tangga hendaknya merasa bangga atas peran yang disandangnya. Bagaimana tidak, ibu merupakan kunci kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Dengan pengorbanan seorang ibu, akan terlahir anak-anak yang tangguh iman, mental, fisik dan psikisnya, sehingga mampu meneruskan tegaknya risalah Allah di muka bumi ini. Semua pengorbanan yang dilakukan untuk anak dan suami telah digaransi dari Allah ini, maka surgalah balasannya.
Kita telah mengetahui betapa dahsyatnya peran ibu dalam pendidikan anak untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas. Maka, hendaklah kita semua kembali pada ajaran Islam untuk menjalankan peran sebagai ibu dengan sebenar-benarnya. Jangan terpancing oleh suatu trend yang belum jelas sumbe maupun akhirnya. Dengan alas an emansipasi, jangan terpancing untuk menggantikan peran ibu bagi anak-anak ke pengasuhan orang lain. Anak bukanlah robot yang hanya membutuhkan perawatan saja, namun mereka juga membutuhkan sosok panutan, pengasuhan serta pendidikan yang baik.
Remaja sekarang yang sangat akrab dengan berbagai penyimpangan adalah produk orang tua beberapa tahun silam. Kalau toh sekarang seorang ibu mempunyai anak balita,apakah sanggup ia memproduksi generasi yang sama dengan situasi generasi sekarang, atau malah lebih parah lagi kondisinya? Ingat, setelah manusia mati akan terputus segala amal kecuali tiga hal ; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang shaleh. Anak yang shaleh merupakan investasi yang tidak akan terhenti hasilnya. Kita bisa menikmati hasil anak yang shaleh, ketika kita masih hidup di dunia dan ketika kita sudah mati. Untuk mempersiapkan anak supaya menjadi generasi yang shaleh/shalehah tidak bisa dilakukan secara instant. Itu semua membutuhkan suatu proses pengorbanan.
Sebagai makhluk, kita menyadari tujuan Allah menciptakan semua makhluk di muka bumi ini tiada lain kecuali untuk menyembahNya. Tidak ada upaya yang lebih mulia selain untuk beribadah kepada Allah dan mencari ridhaNya. Segala sesuatu telah ditentukan Allah, tak terkecuali peran mulia seorang wanita, yaitu sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya. Rasulullah bersabda :
“ seorang ibu adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….”(HR Muslim).
Sebagai pemimpin, hendaklah kita memegang amanah tentang kedudukan kita, dan berusaha menjalankan peran sebaik-baiknya sehingga tujuan kelompok yang kita pimpin (keluarga) dapat tercapai, yaitu memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Peran sebagai ibu rumah tangga menuntut ‘jam kerja’ yang tiada habisnya. Demi berhasilnya peran ini, dibutuhkan kerjasama yang baik antara suami dan istri sehingga bisa menyelamatkan keluarga. Allah memperingatkan umat manusia untuk memelihara diri dan keluarga dari apai neraka (QS. At Tahiim ayat 6). Ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu para ibu dalam menjiwai perannya, yaitu antara lain:
Dengan suami
Suami adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai pemimpin, mereka berhak memutuskan. Namun sang istri yang bertanggungjawab terhadap keluarga, juga berhak memberikan berbagai masukan. Suami tidak akan bisa memberikan keputusan yang bijak tanpa melibatkan istrinya, karena sang istri yang mengelola keluarga dan mengetahui seluk beluk anggota keluarga. Tanpa mempertimbangkan posisi suami, sang istri juga tidak bisa memutuskan secara bijak, karena keluarga tetap membutuhkan sumbangsih pemikiran kepala keluarga.
Suami adalah partner dalam mewujudkan tujuan keluarga kita. Usahakan seorang istri bisa membina hubungan dengan suami secara jujur, terbuka dan intens. Dengan sikap ini, bersama-sama suami akan menentukan langkah-langkah pencapaiannya dan memecahkan kendala yang ada. Antara keduanya harus mengetahui kelemahan serta kelebihan masing-masing dan saling mendukung.
Sangat penting menyamakan tujuan, visi, serta misi keluarga. Karena akan dapat menyelamatkan keutuhan rumah tangga, serta kita mengemban amanah yaitu menghantarkan anak meraih surganya. Hal-hal yang menyangkut anak tetap harus melibatkan kedua orang tuanya. Sehingga di mata anak, keduanya demikian kompak sehingga anak akan mudah ‘terbentuk’ karakternya.
Keterbukaan bisa dijalin dalam berbagai hal; misalnya, si istri mengutarakan bahwa ia merasakan kecapekan menangani tiga anak dengan jarak umur yang begitu dekat. Suami bisa membantu menyelesaikan beberapa tugas rumah atau menyediakan pembantu, sehingga memperingan tugas istri, dan posisi istri sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya akan optimal. Keterbukaan dengan suami bisa kita latih sedini mungkin. Kalau kita termasuk orang yang susah memulai keterbukaan, mulailah dengan menanyakan hal-hal yang disukai suami dan dalam suasana yang santai (plus manjakan suami dengan memberikan teh hangat,,menghayal mode on..hehehe), misalnya menanyakan mengapa dahulu memilihnya untuk dijadikan istri. Demikian juga bagi istri akan memberikan masukan ke suami, alasan mengapa dulu istri mau diperistri dengannya (wah,,wah,,wah,, kira2 nanti nih aku musti jawab apa yah???heheh). Hal ini selain untuk mengawali jalan keterbukaan, juga akan menimbulkan rasa romantis antar suami istri,,,duileeeeeee,,,,romantis boo,,hehe
Bisa juga menanyakan makanan kesukaannya, atau suami ingin diperlakukan seperti apa. Ingat keterbukaan akan terjalin dengan baik kalau dilakukan dalam suasana yang santai dan suasana hati yang senang. Jangan awali keterbukaan dengan mengkritiknya terlebih dahulu. Orang yang dikritik biasanya akan ‘terluka’ sehingga lebih memungkinkan ia menghindar dan menyerang. Bukannya keterbukaan yang didapat, mungkin malah akan menimbulkan pertengkaran. Sebagai istri pasti tahu suasana hati suami setiap saat. Kalau suatu saat suasana hatinya buruk, ia bisa menghiburnya atau menunda apa yang akan disampaikan. Setelah membaik suasana hatinya, baru bisa mengajaknya untuk berdiskusi. Istri bisa membuat komitmen untuk selalu saling menjaga. Tidak hanya pihak istri saja yang harus ‘ngemong’ perasaan suami, tapi suami juga harus ‘ngemong’ perasaan istri. Dengan adanya rasa ‘saling’ menjaga, niscaya kehangatan dalam rumah tangga akan selalu terjaga.
Dengan anak
Anak adalah permata hati kedua orang tuanya. Mereka tidak minta dilahirkan, namun orang tua yang mengupayakan. Apabila kita telah dikaruniai anak, biasanya prioritas utamanya adalah pemenuhan kebutuhan anak. Mayoritas ibu seringkali menomorduakan kepentingan serta kebutuhannya demi anak. Bahkan tak jarang, kebutuhan suami juga dinomorduakan setelah kebutuhan anak (biasanya suami juga setuju). Namun demikian, tidak terlalu memanjakan anak. Anak memerlukan perawatan dan pendidikan. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan jasmani saja, namun tempaan pendidikan juga mutlak diberikan.
Kenapa demikian? Karena anak merupakan amanah dari Allah. Allah mempercayakan kepada kita untuk merawat dan mendidiknya. Oleh karena itu hasil kahir, yaitu terbentuknya anak yang shaleh/shalehah akan kita pertanggungjawabkan. Anak yang shaleh ini tidak akan tercipta kalau tidak ada pendidikan yang islami dalam keluarga. Kedua orang tua harus menyamakan persepsi tentang pendidikan, pembiasaan baik di rumah, serta pemilihan sekolah. Titik sentral tanggung jawab pendidikan tetap berada di tangan orang tuanya (terutama ibu yang bertindak sebagao ‘pemimpin’ anak-anak). Tidak jarang, para ibu menangani anak dalam situasi yang sulit, dimana kondisi seorang ibu sudah capek menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, dan anak melakukan berbagai kenakalan/kerewelan.
Kalau tidak menyadari peran dan tanggung jawab kita, tidak mustahil akan mudah marah. Dengan sedikit perhatian dan komunikasi ini biasanya suasana akan mencair. Dalam keseharian, harus ditanamkan saling hormat, saying, dan bantu antar anggota keluarga,sehingga kejadian saingan atau iri antar saudara bisa ditekan. Seringkali, beberapa ibu yang jengkel menghadapi anaknya yang rewel. Tidak sedikit ibu yang membentak anaknya yang sedang menangis agardiam. Sebelum amarah itu ‘meledak’ coba kita tempatkan posisi ke anak, kenapa ia menangis. Coba perhatikan butiran air mata yang mengalir di pipinya, dengan memperhatikan ekspresi wajah yang menampakkan rasa tidak berdaya anak sewaktu menangis, kita bisa menahan untuk tidak cepat ‘meledak’. Setelah itu, kita telusuri sambil berdiskusi kenapa ia menangis, apa dia sakit, merasa kurang aman, merasa iri, takut, marah, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa bersikap dengan bijak. Namun hati-hati, tetap memegang prinsip yang terbaik buat anak. Jangan asal anak menangis, kemudian mengasih kasih apapun permintaanya, ini malah berbahaya. Misalnya, anak minta banyak permen padahal kita telah memberinya. Untuk mensikapi anak ini, harus tetap teguh pendirian kalau pemberian permen dibatasi. Hal ini demi kesehatan anak juga pendisiplinan.
Pekerjaan sehari-hari
Selain masalah anak-anak, biasanya ibu banyak berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Coba perhatikan beberapa pekerjaan sehari-hari ini : Bangun pagi; memasak (nasi, sayur, lauk), memandikan anak (blmpi ada anakku,,huehehe), mempersiapkan sarapan, menyuapi anak (kalau ada yang belum mandiri di’), membereskan rumah (olahraga sekalian hehe), mencuci piring,gelas, perkakas, mencuci baju, menjemur. Kesemuanya ini biasanya bisa selesai menjelang siang hari. Lalu kita bisa bermain sebentar dengan anak, dan dilanjutkan tugas lagi : menyuapi anak makan siang, menidurkan anak, menyetrika baju, memandikan anak (sore), menyediakan makanan tambahan dan susu anak, menyuapi anak makan malam, menyediakan teh hangat dan snack untuk suami (hmmmm istri yang perhatian nih,,heheh), mencuci perkakas, merapikan rumah, istirahat malam. Pekerjaan rumah senantiasa tidak ada habisnya, apalagi kita yang masih mempunyai anak balita/batita. Jumlah anak yang lebih dari tiga dan jarak usianya yang dekat membuat ibu terfokus pada anak (edd,,,cibuknya….). ada saja ulahnya, sehingga pekerjaan rumah kadangkala tertunda. Mereka umumnya masih membutuhkan perhatian yang penuh dari ibunya, misalnya jadwal pemberian ASI, makan, suplemen, dan buah. Misalnya kita masih memberikan ASI ke anak terkecil, si tengah (anak kedua) minta digendong, sedangkan, sedangkan si sulung minta didampingi bermain atau belajar. Belum lagi kerewelan anak karena merasa iri dengan saudaranya, minta perhatian ibu, berebut mainan,,,,(tambah repot yah kayaknya,,,,,,huehehe).
Pekerjaan yang tiada habisnya ini akan membuat ibu kelelahan. Coba diskusikan ke suami, kita minta bantuan suami untuk membereskan sebagian tugas rumah tangga, sehingga beban tugas tidak hanya dipikul istrinya.
Tujuan terbesar saat ini adalah perhatian ke anak, sehingga antara suami dan istri harus mau berbagi tugas rumah tangga. Kalau suami sangat sibuk dan tidak bisa diganggu karena tugas kantor yang demikian banyak, suami bisa mennyediakan pembantu di rumah. Ternyata, kalau suatu hari suami sibuk dan tidak ada pembantu, mungkin kita bisa mengatur jadwal beres-beres rumah. Tidak semuanya dilakukan di pagi hari dan tidak semuanya dilakukan setiap hari. Misalnya memasak wajib di pagi hari, namun mencuci baju dan perkakas rumah bisa dilakukan siang hari, sedangkan menyetrika dilakukan tiga hari sekali (itu tidak semua baju, yang penting saja, sebagian hanya dilipat langsung tanpa disetrika), membereskan rumah sekali sehari dan dilakukan disela jadwal padat itu (mungkin malam hari/menjelang subuh). Yang terpenting dari itu semua, focus kita tetap ke suami dan anak. Antara kita dan suami harus berbagi tanggung jawab, berbagi suka dan berbagi beban kerja,,,hmmm indah bukan????ckckck.
Keuangan
Kita sebagai ibu rumah tangga juga bertindak sebagai manager keuangan di rumah. Biasanya gaji suami akan diserahkan sepenuhnya, dan kita akan mengaturnya. Sebagai seorang manager, kita harus bijak bertindak. Kita harus mengetahui pos pengeluaran yang penting dan wajib kita keluarkan, misalnya untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, transportasi, listrik, telepon, pam, kesehatan, kebersihan kampong, selain itu sebagian harus kita sisihkan untuk tabungan dan cadangan tak terduga. Yang pasti kita tidak boleh mencipatakan kebutuhan hanya berdasarkan rasa ingin membeli,serta bersikap berlebihan dalam berbelanja.
Kita juga bisa mengembangkan uang tersebut, dengan melakukan usaha untuk menambah penghasilan atau menitipkan modal untuk usaha orang lain dengan sistem bagi hasil. Kalau anak kita telah mandiri, mungkin kita bisa melakukan berbagai usaha yang bisa mendatangkan uang, asal tetap menomorsatukan kelurga. Lebih baik lagi apabila pusat kegiatan perekonomian yang kita ciptakan berasal dari rumah kita sendiri sehingga pengawasan terhadap anak dan perhatian ke suami tidak akan terkurangi. Dengan demikian pemasukan keluarga akan bertambah. Itu semua harus seijin dan sepengetahuan suami.
Masyarakat
Masyarakat adalah orang-orang yang berada di luar keluarga kita, namun kita bisa berhubungan dengan mereka secara baik. Hal ini dilakukan untuk terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri sangat beragamnya sifat yang dimiliki tiap anggota masyarakat. Kita harus bergaul dengan semuanya, tetapi tanpa meleburkan jati diri kita ke mereka. Yang pasti, kita harus mengetahui posisi kita sebagai ibu rumah tangga, yang tetap menomorsatukan suami dan anak-anak. Jangan membandingkan keluarga kita dengan para tetangga yang lebih beruntung, syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Kita tetap mengikuti kegiatan masyarakat yang bermanfaat, misalnya mendatangi majelis taklim, mengikuti pertemuan PKK, serta ikut bergotong royong, dan lain sebagainya. Tidak sedikit kita jumpai, seorang ibu rumah tangga yang menyukai hang out dengan kelompoknya. Mereka membentuk suatu kelompok untuk bersenang-senang sendiri tanpa melibatkan suami dan anak-anak. Adakalanya kita mempunyai tetangga yang begitu usil baik perilaku, sikap maupun hatinya, sehingga menimbulkan berbagai masalah. Untuk mensikapi hal ini, kita berhak memilih dengan siapa kita berteman. Teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran serta kita terhindar dari bahaya perilaku dan sikapnya, (SANGAT SATUJUH!!!!!)….
Oleh : Nurul Chomariah
Dengan mengetahui berbagai tips diatas, diharapkan kita bisa ‘mengalir’ menjalankan peran tanpa timbul berbagai ganjalan yang mengurangi keikhlasan kita. Apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari ibadah kita kepada Allah. Kita hanya mengaharapkan ridha Allah. Kita harus selalu ingat akan tujuan tertinggi kita, yaitu melakukan jihad di jalan Allah. Dengan selalu mengingatnya, seberat apapun pekerjaan yang kita jalani, kita akan selalu merasa ringan karena sebenarnya apapun yang kita lakukan untuk keluarga adalah bentuk cinta kita terhadap mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda :
“ Hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang paling bermanfaat bagi anggota keluarganya “ (HR. Abdullah dan Ahmad).
Para ibu-ibu kompleks gimana nih,,,,udah siapkah kita berjuang menjadi ibu yang penuh cinta?????? Semoga kita, yang udah merit,,dan yang lagi pengen merit, mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi keluarga kita semua ya, Amin…. ^__^
AKU BISA (diambiL dari album suara hati - Vidi Alviano)
aku bisa
aku mampu
menjadi terbaik yang ku mau
hidup hanyalah sekali saja
Mengapa dunia engkau sia-sia kutau kini saat yanng pasti
ku kan mengejar matahari
derita yang kualami
tak mungkin menghambat angan citaku
kusambut hari depanku nanti
bagai cahaya meniti pelangi
aku bisa dan aku mampu
warnai hidupku kian berarti
tak ada hari tanpa memperbaiki diri
kuingin mewujudkan yang terbaik dariku......
YES i CAN !!!
aku mampu
menjadi terbaik yang ku mau
hidup hanyalah sekali saja
Mengapa dunia engkau sia-sia kutau kini saat yanng pasti
ku kan mengejar matahari
derita yang kualami
tak mungkin menghambat angan citaku
kusambut hari depanku nanti
bagai cahaya meniti pelangi
aku bisa dan aku mampu
warnai hidupku kian berarti
tak ada hari tanpa memperbaiki diri
kuingin mewujudkan yang terbaik dariku......
YES i CAN !!!
Officially missing U
Subhanallah……. Rabbi, jalan yang kau bentangkan dihadapanku saat ini. Hanya dengan Alhamdulillah aku bisa ikhlas menerima semuanya. Karena yang terbaik menurutMu lah sesungguhnya yang benar2 terbaik bagiku. Meskipun jalan ini tak semudah rencana yang telah ku susun, tak seindah impian. Namun aku masih memiliki kecintaan yang membuatku tegar berdiri dan akan mengumpulkan puing2 mimpiku yang berserakan hari ini. Inginnya aku pergi jauh ya… Rabbi, tapi semua itu takkan mampu buat aku lebih bisa menerima. Mungkin hanya dengan sujud syukurku ku Tawakal padaMu, Ku ikhlaskan segala yang terjadi padaku.
Walau terasa sesak dada ini, terisak tangis ini menyesali khilaf selama nafas yang ku hirup. Dengan Bismillah, ku langkahkan kaki ini ya Rabbi… tuntunlah tiap nafas, impian, jalan dan perbuatanku, Ridhoi tiap kenginan dan kabulkan tiap lafas do’a dalam hati ini…. Gantikan tiap pahit dan perih hatiku dengan kebahagiaan …. Amin…..
Walau terasa sesak dada ini, terisak tangis ini menyesali khilaf selama nafas yang ku hirup. Dengan Bismillah, ku langkahkan kaki ini ya Rabbi… tuntunlah tiap nafas, impian, jalan dan perbuatanku, Ridhoi tiap kenginan dan kabulkan tiap lafas do’a dalam hati ini…. Gantikan tiap pahit dan perih hatiku dengan kebahagiaan …. Amin…..
maknai semuanya dengan berprasangka baik padaNya
Sejauh ini wiwin masih melangkah dengan banyak harapan di depan. Sudah banyak yang terjadi… Tapi mungkin belum cukup untuk sekedar blajar memaknai … Aku masih harus banyak belajar dari mereka. Semuanya tak lepas dari ingatan dan terekam baik dalam memory triliunan GB di otakku…
Maknai saja semuanya dengan syukur…Dengan keihklasan, dengan prasangka baik… Maka ketika itu benar2 kurterapkan tiba2 hati ini lapang… Senyum ini akan mudah terbingkai …Maka ketika langkahku terhenti, akan banyak cara yang akan muncul tuk membantuku hadapi semuanya… Ada-ada saja… Dan itu adalah Yang Maha Berkehendak….
Maknai saja semuanya dengan syukur…Dengan keihklasan, dengan prasangka baik… Maka ketika itu benar2 kurterapkan tiba2 hati ini lapang… Senyum ini akan mudah terbingkai …Maka ketika langkahku terhenti, akan banyak cara yang akan muncul tuk membantuku hadapi semuanya… Ada-ada saja… Dan itu adalah Yang Maha Berkehendak….
AKU ADALAH KATA YANG TERINDAH ^__^
Kalo dipikir2, hidup ini memang indah, kita diberi waktu singkat untuk menentukan masa depan. Mau jadi apa nantinya ? ya…silahkan tentukan dari sekarang.
Allah menciptakan bumi, langit dan jagat raya ini dengan kata2 indahnya, aku terlahir didunia juga karena kata2 indah yang berujung pada mama dan papa yang telah membesarkan aku, lalu aku berusaha bertahan dan menjadi pemenang dari tiap perjuanganku juga dengan kata2 indah yang ku dapat dan yang ku ucap….
Itu kenapa aku bilang Aku adalah kata terindah…karena aku terlahir untuk amanah terindah ….
Allah menciptakan bumi, langit dan jagat raya ini dengan kata2 indahnya, aku terlahir didunia juga karena kata2 indah yang berujung pada mama dan papa yang telah membesarkan aku, lalu aku berusaha bertahan dan menjadi pemenang dari tiap perjuanganku juga dengan kata2 indah yang ku dapat dan yang ku ucap….
Itu kenapa aku bilang Aku adalah kata terindah…karena aku terlahir untuk amanah terindah ….
Langganan:
Postingan (Atom)