Sabtu, 27 November 2010

Istri yang akan menghuni Surga

DARI ‘Abdullah bin ‘Abbas ra: Rasulullah saw bersabda: “Maukah kuberitahu kepada kalian tentang istri-istri kalian yang termasuk penghuni surga? Yaitu perempuan yang mencintai suami, mempunyai banyak anak, dan selalu meminta maaf kepada suaminya.

Jika ia menyakiti atau disakiti, ia segera mendatangi suaminya dan memegang tangannya, lalu berkata,”Demi Allah, aku tidak akan tidur sebelum engkau ridho kepadaku.” (HR Al-Nasa’i). Dari hadist di atas tersebut dapat kita ambil pelajaran tentang mana istri yang akan masuk surga. Paling tidak dari Rasulullah saw mengisyarakatkan ada empat istri yang akan masuk surga jika mereka, pertama: mencintai suaminya. Istri selayaknyalah mencintai suaminya baik dalam keadaan suka maupun duka. Banyak para istri yang mencintai suaminya dikala suka, tetapi jika dalam keadaan duka, istri marah-marah bahkan tidak meladeni suaminya.

Istri yang seperti ini hanya mementingkan perasaan dirinya semata. Ia menuntut agar suaminya memberikan materi yang berlebih kepadanya, tetapi ketika suami tidak sanggup untuk memberikan materi yang berlebih istri menganggap suaminya tidak sayang lagi kepadanya. Akibatnya, banyak suami yang terjebak untuk melakukan tindakan korupsi karena ingin menyenangkan hati istrinya.

Di sinilah dipertaruhkan hakikat istri yang sebenarnya, makanya Rasulullah bersabda, istri yang akan masuk surga adalah istri yang mencintai suaminya, artinya baik itu suaminya dalam keadaan suka maupun duka. Istri tetap mendampingi suaminya dalam menjalani hidup.

Kedua, istri yang punya banyak anak. Bersyukur seorang istri yang diberi anugerah membesarkan anak-anaknya. Tidak banyak istri yang diberi anugerah dengan banyak anak. Ketika ia ikhlas membesarkan anak-anaknya dengan penuh rasa kasih sayang dan selalu membimbing mereka ke jalan yang diridhoi Allah, maka surga telah menunggu istri yang seperti ini. Saat ini, banyak istri yang memberikan tanggungjawabnya kepada orang lain sebagai ibu yaitu menyerahkan anaknya kepada baby sister.

Jadi apakah salah menyerahkan anak kepada baby sister. Salah! Jika sepenuhnya baby sisterlah yang bertanggungjawab, mulai dari bangun si anak sampai si anak tidur lagi seluruhnya diserahkan kepada baby sister. Seorang baby sister tugasnya hanya membantu seorang istri. Ia bukan ibu dari anak-anak kita. Yang menjadi ibu adalah kita. Jadi jalankankan peran seorang istri juga sebagai seorang ibu.

Ketiga: Seorang istri harus selalu meminta maaf kepada suaminya, apakah pada saat ia menyakiti hati suaminya atau ketika ia disakiti oleh suaminya. Bagi orang-orang yang berpaham feminis, jelas ini ini tidak benar. Seorang istri yang disakiti oleh suami kenapa harus juga minta maaf. Islam mengajarkan orang yang meminta maaf terlebih dahulu lebih baik dari orang yang memberi maaf.

Seorang istri akan mendapat imbalan surga jika ia meminta maaf lebih dahulu ketika ia menyakiti hati suaminya atau ia disakiti. Boleh jadi dengan meminta maaf terlebih dahulu, suami yang telah menyakiti hatinya akan tersentuh hatinya, bahwa sesungguhnya ialah yang harus meminta maaf bukan istrinya. Namun jika tidak ada seorangpun yang meminta maaf maka boleh jadi rumah tangga akan berantakan.

Maka wajarlah seorang istri yang dinanti kehadirannya di surga adalah istri-istri yang mampu menempatkan dirinya sebagai seorang istri, ibu dan orang yang berusaha menjaga kerukunan rumah tangganya.

Mudah-mudahan hadist di atas tersebut menyadarkan kepada kita bahwa tugas sebagai istri memang sangat berat. Dan ketika tantangan itu dapat dihadapi dengan penuh keikhlasan maka surgalah tempat ia kembali.
================================Oleh : H. Ali Murthado
http://www.analisadaily.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar