Bismillahirrahmanirrahim
Apapun profesi yang ibu sandang tetap saja ada sisi positif dan negative. Profesi sebagai ibu rumah tangga memang belum menempati penilaian yang baik di mata masyarakat. Oleh karena itu, tidak sedikit ibu rumah tangga yang dipandang sebelah mata. Belum lagi dalam rumah tangga sendiri, banyak suami yang berpendapat kalau urusan rumah tangga memang tanggung jawab ibu sepenuhnya. Sehingga apapun yang dilakukan ibu beserta pengorbanannya dianggap sebagai sesuatu yang lumrah dan selayaknya dilakukan. Hal ini berakibat kurangnya penghargaan suami dan anak atas apa yang telah dilakukan istri atau ibu di rumah. Kalau seorang ibu termasuk orang yang ‘gila’ penghargaan dari orang lain, mungkin perlakuan ini begitu menyakitkan. Maka, akan menjadi sosok yang uring-uringan, dan yang paling menyedihkan, sasaran uring-uringan biasanya terhadap anak dan suami. Padahal hanya untuk orang-orang inilah (suami dan anak) kita semua berkorban.
Sebagai ibu rumah tangga hendaknya merasa bangga atas peran yang disandangnya. Bagaimana tidak, ibu merupakan kunci kelangsungan hidup generasi yang akan datang. Dengan pengorbanan seorang ibu, akan terlahir anak-anak yang tangguh iman, mental, fisik dan psikisnya, sehingga mampu meneruskan tegaknya risalah Allah di muka bumi ini. Semua pengorbanan yang dilakukan untuk anak dan suami telah digaransi dari Allah ini, maka surgalah balasannya.
Kita telah mengetahui betapa dahsyatnya peran ibu dalam pendidikan anak untuk mempersiapkan generasi penerus yang berkualitas. Maka, hendaklah kita semua kembali pada ajaran Islam untuk menjalankan peran sebagai ibu dengan sebenar-benarnya. Jangan terpancing oleh suatu trend yang belum jelas sumbe maupun akhirnya. Dengan alas an emansipasi, jangan terpancing untuk menggantikan peran ibu bagi anak-anak ke pengasuhan orang lain. Anak bukanlah robot yang hanya membutuhkan perawatan saja, namun mereka juga membutuhkan sosok panutan, pengasuhan serta pendidikan yang baik.
Remaja sekarang yang sangat akrab dengan berbagai penyimpangan adalah produk orang tua beberapa tahun silam. Kalau toh sekarang seorang ibu mempunyai anak balita,apakah sanggup ia memproduksi generasi yang sama dengan situasi generasi sekarang, atau malah lebih parah lagi kondisinya? Ingat, setelah manusia mati akan terputus segala amal kecuali tiga hal ; amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta doa anak yang shaleh. Anak yang shaleh merupakan investasi yang tidak akan terhenti hasilnya. Kita bisa menikmati hasil anak yang shaleh, ketika kita masih hidup di dunia dan ketika kita sudah mati. Untuk mempersiapkan anak supaya menjadi generasi yang shaleh/shalehah tidak bisa dilakukan secara instant. Itu semua membutuhkan suatu proses pengorbanan.
Sebagai makhluk, kita menyadari tujuan Allah menciptakan semua makhluk di muka bumi ini tiada lain kecuali untuk menyembahNya. Tidak ada upaya yang lebih mulia selain untuk beribadah kepada Allah dan mencari ridhaNya. Segala sesuatu telah ditentukan Allah, tak terkecuali peran mulia seorang wanita, yaitu sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya. Rasulullah bersabda :
“ seorang ibu adalah pemimpin rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya….”(HR Muslim).
Sebagai pemimpin, hendaklah kita memegang amanah tentang kedudukan kita, dan berusaha menjalankan peran sebaik-baiknya sehingga tujuan kelompok yang kita pimpin (keluarga) dapat tercapai, yaitu memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
Peran sebagai ibu rumah tangga menuntut ‘jam kerja’ yang tiada habisnya. Demi berhasilnya peran ini, dibutuhkan kerjasama yang baik antara suami dan istri sehingga bisa menyelamatkan keluarga. Allah memperingatkan umat manusia untuk memelihara diri dan keluarga dari apai neraka (QS. At Tahiim ayat 6). Ada beberapa tips yang mungkin bisa membantu para ibu dalam menjiwai perannya, yaitu antara lain:
Dengan suami
Suami adalah pemimpin dalam keluarga. Sebagai pemimpin, mereka berhak memutuskan. Namun sang istri yang bertanggungjawab terhadap keluarga, juga berhak memberikan berbagai masukan. Suami tidak akan bisa memberikan keputusan yang bijak tanpa melibatkan istrinya, karena sang istri yang mengelola keluarga dan mengetahui seluk beluk anggota keluarga. Tanpa mempertimbangkan posisi suami, sang istri juga tidak bisa memutuskan secara bijak, karena keluarga tetap membutuhkan sumbangsih pemikiran kepala keluarga.
Suami adalah partner dalam mewujudkan tujuan keluarga kita. Usahakan seorang istri bisa membina hubungan dengan suami secara jujur, terbuka dan intens. Dengan sikap ini, bersama-sama suami akan menentukan langkah-langkah pencapaiannya dan memecahkan kendala yang ada. Antara keduanya harus mengetahui kelemahan serta kelebihan masing-masing dan saling mendukung.
Sangat penting menyamakan tujuan, visi, serta misi keluarga. Karena akan dapat menyelamatkan keutuhan rumah tangga, serta kita mengemban amanah yaitu menghantarkan anak meraih surganya. Hal-hal yang menyangkut anak tetap harus melibatkan kedua orang tuanya. Sehingga di mata anak, keduanya demikian kompak sehingga anak akan mudah ‘terbentuk’ karakternya.
Keterbukaan bisa dijalin dalam berbagai hal; misalnya, si istri mengutarakan bahwa ia merasakan kecapekan menangani tiga anak dengan jarak umur yang begitu dekat. Suami bisa membantu menyelesaikan beberapa tugas rumah atau menyediakan pembantu, sehingga memperingan tugas istri, dan posisi istri sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya akan optimal. Keterbukaan dengan suami bisa kita latih sedini mungkin. Kalau kita termasuk orang yang susah memulai keterbukaan, mulailah dengan menanyakan hal-hal yang disukai suami dan dalam suasana yang santai (plus manjakan suami dengan memberikan teh hangat,,menghayal mode on..hehehe), misalnya menanyakan mengapa dahulu memilihnya untuk dijadikan istri. Demikian juga bagi istri akan memberikan masukan ke suami, alasan mengapa dulu istri mau diperistri dengannya (wah,,wah,,wah,, kira2 nanti nih aku musti jawab apa yah???heheh). Hal ini selain untuk mengawali jalan keterbukaan, juga akan menimbulkan rasa romantis antar suami istri,,,duileeeeeee,,,,romantis boo,,hehe
Bisa juga menanyakan makanan kesukaannya, atau suami ingin diperlakukan seperti apa. Ingat keterbukaan akan terjalin dengan baik kalau dilakukan dalam suasana yang santai dan suasana hati yang senang. Jangan awali keterbukaan dengan mengkritiknya terlebih dahulu. Orang yang dikritik biasanya akan ‘terluka’ sehingga lebih memungkinkan ia menghindar dan menyerang. Bukannya keterbukaan yang didapat, mungkin malah akan menimbulkan pertengkaran. Sebagai istri pasti tahu suasana hati suami setiap saat. Kalau suatu saat suasana hatinya buruk, ia bisa menghiburnya atau menunda apa yang akan disampaikan. Setelah membaik suasana hatinya, baru bisa mengajaknya untuk berdiskusi. Istri bisa membuat komitmen untuk selalu saling menjaga. Tidak hanya pihak istri saja yang harus ‘ngemong’ perasaan suami, tapi suami juga harus ‘ngemong’ perasaan istri. Dengan adanya rasa ‘saling’ menjaga, niscaya kehangatan dalam rumah tangga akan selalu terjaga.
Dengan anak
Anak adalah permata hati kedua orang tuanya. Mereka tidak minta dilahirkan, namun orang tua yang mengupayakan. Apabila kita telah dikaruniai anak, biasanya prioritas utamanya adalah pemenuhan kebutuhan anak. Mayoritas ibu seringkali menomorduakan kepentingan serta kebutuhannya demi anak. Bahkan tak jarang, kebutuhan suami juga dinomorduakan setelah kebutuhan anak (biasanya suami juga setuju). Namun demikian, tidak terlalu memanjakan anak. Anak memerlukan perawatan dan pendidikan. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan jasmani saja, namun tempaan pendidikan juga mutlak diberikan.
Kenapa demikian? Karena anak merupakan amanah dari Allah. Allah mempercayakan kepada kita untuk merawat dan mendidiknya. Oleh karena itu hasil kahir, yaitu terbentuknya anak yang shaleh/shalehah akan kita pertanggungjawabkan. Anak yang shaleh ini tidak akan tercipta kalau tidak ada pendidikan yang islami dalam keluarga. Kedua orang tua harus menyamakan persepsi tentang pendidikan, pembiasaan baik di rumah, serta pemilihan sekolah. Titik sentral tanggung jawab pendidikan tetap berada di tangan orang tuanya (terutama ibu yang bertindak sebagao ‘pemimpin’ anak-anak). Tidak jarang, para ibu menangani anak dalam situasi yang sulit, dimana kondisi seorang ibu sudah capek menyelesaikan pekerjaan sehari-hari, dan anak melakukan berbagai kenakalan/kerewelan.
Kalau tidak menyadari peran dan tanggung jawab kita, tidak mustahil akan mudah marah. Dengan sedikit perhatian dan komunikasi ini biasanya suasana akan mencair. Dalam keseharian, harus ditanamkan saling hormat, saying, dan bantu antar anggota keluarga,sehingga kejadian saingan atau iri antar saudara bisa ditekan. Seringkali, beberapa ibu yang jengkel menghadapi anaknya yang rewel. Tidak sedikit ibu yang membentak anaknya yang sedang menangis agardiam. Sebelum amarah itu ‘meledak’ coba kita tempatkan posisi ke anak, kenapa ia menangis. Coba perhatikan butiran air mata yang mengalir di pipinya, dengan memperhatikan ekspresi wajah yang menampakkan rasa tidak berdaya anak sewaktu menangis, kita bisa menahan untuk tidak cepat ‘meledak’. Setelah itu, kita telusuri sambil berdiskusi kenapa ia menangis, apa dia sakit, merasa kurang aman, merasa iri, takut, marah, dan lain sebagainya. Dengan mengetahui penyebabnya, kita bisa bersikap dengan bijak. Namun hati-hati, tetap memegang prinsip yang terbaik buat anak. Jangan asal anak menangis, kemudian mengasih kasih apapun permintaanya, ini malah berbahaya. Misalnya, anak minta banyak permen padahal kita telah memberinya. Untuk mensikapi anak ini, harus tetap teguh pendirian kalau pemberian permen dibatasi. Hal ini demi kesehatan anak juga pendisiplinan.
Pekerjaan sehari-hari
Selain masalah anak-anak, biasanya ibu banyak berkutat dengan pekerjaan sehari-hari. Coba perhatikan beberapa pekerjaan sehari-hari ini : Bangun pagi; memasak (nasi, sayur, lauk), memandikan anak (blmpi ada anakku,,huehehe), mempersiapkan sarapan, menyuapi anak (kalau ada yang belum mandiri di’), membereskan rumah (olahraga sekalian hehe), mencuci piring,gelas, perkakas, mencuci baju, menjemur. Kesemuanya ini biasanya bisa selesai menjelang siang hari. Lalu kita bisa bermain sebentar dengan anak, dan dilanjutkan tugas lagi : menyuapi anak makan siang, menidurkan anak, menyetrika baju, memandikan anak (sore), menyediakan makanan tambahan dan susu anak, menyuapi anak makan malam, menyediakan teh hangat dan snack untuk suami (hmmmm istri yang perhatian nih,,heheh), mencuci perkakas, merapikan rumah, istirahat malam. Pekerjaan rumah senantiasa tidak ada habisnya, apalagi kita yang masih mempunyai anak balita/batita. Jumlah anak yang lebih dari tiga dan jarak usianya yang dekat membuat ibu terfokus pada anak (edd,,,cibuknya….). ada saja ulahnya, sehingga pekerjaan rumah kadangkala tertunda. Mereka umumnya masih membutuhkan perhatian yang penuh dari ibunya, misalnya jadwal pemberian ASI, makan, suplemen, dan buah. Misalnya kita masih memberikan ASI ke anak terkecil, si tengah (anak kedua) minta digendong, sedangkan, sedangkan si sulung minta didampingi bermain atau belajar. Belum lagi kerewelan anak karena merasa iri dengan saudaranya, minta perhatian ibu, berebut mainan,,,,(tambah repot yah kayaknya,,,,,,huehehe).
Pekerjaan yang tiada habisnya ini akan membuat ibu kelelahan. Coba diskusikan ke suami, kita minta bantuan suami untuk membereskan sebagian tugas rumah tangga, sehingga beban tugas tidak hanya dipikul istrinya.
Tujuan terbesar saat ini adalah perhatian ke anak, sehingga antara suami dan istri harus mau berbagi tugas rumah tangga. Kalau suami sangat sibuk dan tidak bisa diganggu karena tugas kantor yang demikian banyak, suami bisa mennyediakan pembantu di rumah. Ternyata, kalau suatu hari suami sibuk dan tidak ada pembantu, mungkin kita bisa mengatur jadwal beres-beres rumah. Tidak semuanya dilakukan di pagi hari dan tidak semuanya dilakukan setiap hari. Misalnya memasak wajib di pagi hari, namun mencuci baju dan perkakas rumah bisa dilakukan siang hari, sedangkan menyetrika dilakukan tiga hari sekali (itu tidak semua baju, yang penting saja, sebagian hanya dilipat langsung tanpa disetrika), membereskan rumah sekali sehari dan dilakukan disela jadwal padat itu (mungkin malam hari/menjelang subuh). Yang terpenting dari itu semua, focus kita tetap ke suami dan anak. Antara kita dan suami harus berbagi tanggung jawab, berbagi suka dan berbagi beban kerja,,,hmmm indah bukan????ckckck.
Keuangan
Kita sebagai ibu rumah tangga juga bertindak sebagai manager keuangan di rumah. Biasanya gaji suami akan diserahkan sepenuhnya, dan kita akan mengaturnya. Sebagai seorang manager, kita harus bijak bertindak. Kita harus mengetahui pos pengeluaran yang penting dan wajib kita keluarkan, misalnya untuk kebutuhan sehari-hari, pendidikan, transportasi, listrik, telepon, pam, kesehatan, kebersihan kampong, selain itu sebagian harus kita sisihkan untuk tabungan dan cadangan tak terduga. Yang pasti kita tidak boleh mencipatakan kebutuhan hanya berdasarkan rasa ingin membeli,serta bersikap berlebihan dalam berbelanja.
Kita juga bisa mengembangkan uang tersebut, dengan melakukan usaha untuk menambah penghasilan atau menitipkan modal untuk usaha orang lain dengan sistem bagi hasil. Kalau anak kita telah mandiri, mungkin kita bisa melakukan berbagai usaha yang bisa mendatangkan uang, asal tetap menomorsatukan kelurga. Lebih baik lagi apabila pusat kegiatan perekonomian yang kita ciptakan berasal dari rumah kita sendiri sehingga pengawasan terhadap anak dan perhatian ke suami tidak akan terkurangi. Dengan demikian pemasukan keluarga akan bertambah. Itu semua harus seijin dan sepengetahuan suami.
Masyarakat
Masyarakat adalah orang-orang yang berada di luar keluarga kita, namun kita bisa berhubungan dengan mereka secara baik. Hal ini dilakukan untuk terciptanya masyarakat yang aman dan nyaman. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri sangat beragamnya sifat yang dimiliki tiap anggota masyarakat. Kita harus bergaul dengan semuanya, tetapi tanpa meleburkan jati diri kita ke mereka. Yang pasti, kita harus mengetahui posisi kita sebagai ibu rumah tangga, yang tetap menomorsatukan suami dan anak-anak. Jangan membandingkan keluarga kita dengan para tetangga yang lebih beruntung, syukurilah apa yang ada di hadapan kita. Kita tetap mengikuti kegiatan masyarakat yang bermanfaat, misalnya mendatangi majelis taklim, mengikuti pertemuan PKK, serta ikut bergotong royong, dan lain sebagainya. Tidak sedikit kita jumpai, seorang ibu rumah tangga yang menyukai hang out dengan kelompoknya. Mereka membentuk suatu kelompok untuk bersenang-senang sendiri tanpa melibatkan suami dan anak-anak. Adakalanya kita mempunyai tetangga yang begitu usil baik perilaku, sikap maupun hatinya, sehingga menimbulkan berbagai masalah. Untuk mensikapi hal ini, kita berhak memilih dengan siapa kita berteman. Teman yang baik adalah teman yang bisa mengajak ke arah kebaikan dan mencegah kemungkaran serta kita terhindar dari bahaya perilaku dan sikapnya, (SANGAT SATUJUH!!!!!)….
Oleh : Nurul Chomariah
Dengan mengetahui berbagai tips diatas, diharapkan kita bisa ‘mengalir’ menjalankan peran tanpa timbul berbagai ganjalan yang mengurangi keikhlasan kita. Apapun yang kita lakukan adalah bentuk dari ibadah kita kepada Allah. Kita hanya mengaharapkan ridha Allah. Kita harus selalu ingat akan tujuan tertinggi kita, yaitu melakukan jihad di jalan Allah. Dengan selalu mengingatnya, seberat apapun pekerjaan yang kita jalani, kita akan selalu merasa ringan karena sebenarnya apapun yang kita lakukan untuk keluarga adalah bentuk cinta kita terhadap mereka. Rasulullah SAW pernah bersabda :
“ Hamba yang paling dicintai Allah adalah hamba yang paling bermanfaat bagi anggota keluarganya “ (HR. Abdullah dan Ahmad).
Para ibu-ibu kompleks gimana nih,,,,udah siapkah kita berjuang menjadi ibu yang penuh cinta?????? Semoga kita, yang udah merit,,dan yang lagi pengen merit, mampu memberi manfaat yang sebesar-besarnya bagi keluarga kita semua ya, Amin…. ^__^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar